Berceritalah dia bagaimana setiap hari hatinya tergugah setelah orang-orang yang merasa ditolong oleh klinik Indonesia Medika merasakan kesembuhan dari waktu ke waktu. Tentu ini juga berkat kerja keras seluruh staf dari klinik tersebut yang menurut Gamal diisi oleh pemuda-pemuda hebat.
"Ada satu orang namanya Pak Ponari yang kami bantu sejak Desember tahun lalu. Sakitnya termasuk sakit berat, sakit stroke," kata Gamal saat berbagi inspirasi dengan detikcom, Sabtu (27/6/2015).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Kalau sampai harus dirawat inap atau yang lebih dari itu maka akan kita rujuk. Kita juga sudah bekerja sama dengan beberapa bank dan rumah sakit," tutur Gamal.
Kembali kepada kisah Pak Ponari, Gamal mengaku kurang ingat betul siapa yang mendaftarkan pria paruh baya itu ke kliniknya. Dia hanya menduga-duga bahwa pendaftarnya adalah istri Pak Ponari.
"Saya enggak mau mendramatisir, tapi waktu itu memang saat kami temui Pak Ponari itu hanya terbaring di kasur karena stroke. Secara rutin kami periksa dan beri obat. Dia sudah sakit selama 3 tahun dan sekarang alhamdulillah sudah agak baikan," ujar Gamal.
Adalah staf Indonesia Medika bernama Hari yang aktif mendampingi Pak Ponari saat memeriksakan kesehatan. Gamal pun menyebut semua stafnya pun memiliki karakter demikian.
"Pak Ponari itu setahu saya sudah tidak bekerja, usianya 53 tahun. Lalu untuk yang iuran sampah setiap Sabtu, itu Mas Hari yang aktif mengambil di rumah Pak Ponari. Sekarang begini saja, kalau Anda melihat ada orang tua butuh pertolongan kesehatan, masa tidak ditolong secara maksimal padahal dia sudah tidak bisa apa-apa lagi?" kata pemilik akun twitter @Gamal_Albinsaid tersebut.
Selain Pak Ponari ada pula cerita bocah Khairunnisa yang pernah membuat Gamal tak mampu berkata-kata. Dia mengetahui tentang kisah bocah Nisa dari pemberitaan.
Dia tak menceritakan secara persis kapan peristiwa tentang bocah Nisa tersebut. Nisa masih berumur 3 tahun harus menghembuskan nafas terakhir kaena penyakit diare di gerobak sampah milik ayahnya akibat tak memiliki biaya pengobatan.
"Itu memang bukan awal yang membuat saya menginisiasi klini Indonesia Medika. Tapi itu menggerakkan hati kita bahwa kita harus menolong orang. Makanya kita membuat asuransi yang dengan dibayar sampah, bagaimana kita membuat sampah yang tidak berguna itu menjadi sesuatu yang sangat mahal yaitu kesehatan," ungkap Gamal.
(bag/van)











































