"Kapasitas bandara bukan dihitung dari banyaknya terminal, tapi jumlah landasan pacu," kata Presiden IAAW, Soenaryo di Senen, Jakarta Pusat, Jumat (26/6/2015).
Menurut Soenaryo, AP II yang membangun terminal megah itu tak menjawab crowded-nya pengunjung dan calon penumpang Bandara Soekarno-Hatta. Hanya jumlah landasan pacu, taxi way dan lahan parkir pesawat yang bisa menjawab over capacity sebuah bandara.
"Seperti di Bali, landasan pacu hanya satu tapi terminalnya besar bisa menampung 28 juta penumpang. Saya tanya, yang 11 juta penumpang di antaranya itu naik angkot?" ujar Soenaryo.
Ia kemudian menyinggung bandara internasional di Jeddah, Arab Saudi. Bandara Jeddah memiliki terminal dari tenda, tapi landasan pacu hingga parkir pesawatnya sangat luas sehingga mampu menampung puluhan juta calon jemaah haji.
"Jadi nomor satu itu landasan pacu, lalu peraturan supaya dibiasakan dengan kebiasaan lokal. Ini peraturan menteri juga disesuaikan dengan (local wisdom) daerah," ucap Soenaryo.
Menanggapi hal ini, Direktur Utama AP II Budi Karya menyatakan tengah mengupayakan keterbatasan landasan pacu dan taxi way Bandara Cengkareng. Salah satunya yakni mendatangkan ahli dari Prancis untuk membuat landasan pacu Bandara Cengkareng bisa didarati pesawat besar seperti Boeing 777.
"Taxi way itu kita buat east cross, jadi pesawat itu bukan saja berputar di barat tapi juga di timur. Jadi dapat efisien. Runway kedua itu akan kita tingkatkan jadi triple seven bisa digunakan untuk kapasitas penuh. Kita datangkan konsultan dari Prancis untuk itu," ujar Budi di lokasi yang sama. (vid/rvk)











































