AS Tetapkan 2 Kelompok Kriminal Brasil Organisasi Teroris, Lula Berang

AS Tetapkan 2 Kelompok Kriminal Brasil Organisasi Teroris, Lula Berang

Lisye Sri Rahayu - detikNews
Sabtu, 30 Mei 2026 04:46 WIB
Brazils President Luiz Inacio Lula da Silva gestures as he speaks during the launch of the government program Brazil Against Organized Crime at the Planalto Palace in Brasilia on May 12, 2026. (Photo by Evaristo Sa / AFP)
Lula da Silva (AFP/EVARISTO SA)
Jakarta -

Amerika Serikat (AS) menetapkan dua kelompok kriminal Brasil Komando Merah (CV) dan Komando Ibu Kota Pertama (PCC), sebagai organisasi teroris. Presiden Brasil Luiz Inacio Lula da Silva memberikan reaksi keras.

Dilansir AFP, Sabtu (30/5/2026), penetapan itu disampaikan oleh Menteri Luar Negeri AS Marco Rubio dalam sebuah pernyataan. Rubio mengatakan CV dan PCC adalah organisasi kriminal paling kejam di Brasil.

"CV dan PCC adalah dua organisasi kriminal paling kejam di Brasil. Pengaruh dan jaringan ilegal mereka meluas jauh melampaui perbatasan Brasil, melintasi wilayah kita dan masuk ke negara kita," kata Rubio.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

"Bersama-sama, mereka mengendalikan ribuan anggota dan telah mengatur serangan brutal terhadap petugas polisi Brasil, pejabat publik, dan warga sipil," kata Rubio.

Presiden Brasil Luiz Inacio Lula da Silva telah menyatakan dengan jelas penentangannya terhadap tindakan ini, yang memiliki implikasi hukum yang luas di Amerika Serikat.

Saingan utama Lula dalam pemilihan mendatang, Flavio Bolsonaro yang konservatif, telah mendukung penetapan tersebut. Bolsonaro bertemu dengan Presiden AS Donald Trump awal pekan ini.

AS mulai menetapkan geng kriminal-seperti kartel Sinaloa dan Jalisco Generasi Baru Meksiko-sebagai teroris ketika Trump menjabat pada Januari 2025.

Menurut pandangan pemerintahan Trump, label teroris memungkinkan secara hukum untuk melakukan tindakan yang lebih luas-penegakan hukum, intelijen, dan upaya kontra-pemberontakan-terhadap kelompok-kelompok tersebut, para pemimpinnya, dan kepentingan mereka di seluruh dunia.

Pada bulan Oktober, pasukan keamanan Brasil melakukan penggerebekan besar-besaran di CV, yang mengakibatkan setidaknya 119 kematian-operasi paling mematikan di negara itu. Bentrokan kecil terjadi secara teratur.

Dalam bahasa Portugis, CV dikenal sebagai "Comando Vermelho" dan PCC disebut "Primeiro Comando da Capital."

Sejak akhir musim panas 2025, AS telah melakukan puluhan serangan udara terhadap kapal-kapal yang berasal dari Amerika Latin yang dituduh menyelundupkan narkotika dan merupakan bagian dari organisasi teroris.

Negara-negara seperti Meksiko dan Brasil, dengan pemimpin berhaluan kiri tengah, telah vokal dalam menentang penetapan tersebut, sementara negara-negara lain seperti Ekuador dan Honduras, yang dipimpin oleh pemerintahan berhaluan kanan, telah mendukungnya.

Lula Beri Reaksi Keras

Presiden Brasil Lula da Silva mengecam Washington karena menetapkan dua faksi kriminal terbesar di negara itu sebagai kelompok teroris. Dia memperingatkan AS agar tidak bermain-main dengan demokrasi Brasil.

"Kami tidak akan menerima diperlakukan seperti anak-anak. Kami tidak akan menerima diperlakukan seolah-olah kami adalah republik kecil yang tidak berarti," kata Lula dengan marah dalam sebuah acara di timur laut negara itu.

Kedua kelompok tersebut muncul di penjara-penjara Brasil dan telah meluas ke seluruh negeri serta menguasai wilayah yang luas-seperti favela di Rio de Janeiro. Kelompok ini memiliki keterlibatan dalam perdagangan narkoba dan senjata serta pemerasan.

"Mereka adalah teroris karena mereka menyiksa keluarga, mereka menyiksa lingkungan, dan mereka menyiksa kota. Kami akan melawan mereka di sini, di tanah air," kata Lula.

"Mereka bukanlah jenis teroris yang dicari Trump. Trump menginginkan sosok seperti Osama Bin Laden," imbuhnya.

Brasilia telah lama menentang label teroris. Sebutan itu dipandang sebagai penghinaan yang jelas terhadap Lula, yang mengadakan pertemuan panjang dengan Presiden AS Donald Trump awal bulan ini yang keduanya anggap positif.

"Saya menghabiskan tiga jam dengan Presiden Trump -- tiga jam penuh," kata Lula dengan marah, menambahkan bahwa ia telah menyerahkan dokumen kepada presiden yang secara khusus membahas pemberantasan kejahatan terorganisir.

"Jangan bermain-main dengan kedaulatan negara ini. Jangan bermain-main dengan demokrasi kita," imbuhnya.

Amerika Serikat dan Brasil menandatangani perjanjian pada bulan April untuk memerangi perdagangan senjata dan narkoba.

"Jika Anda ingin memerangi kejahatan terorganisir, serahkan para penjahat kami yang berada di Amerika Serikat," kata Lula, menyoroti bahwa senjata dari AS sedang "diselundupkan ke Brasil".

Halaman 2 dari 2
(lir/lir)


Berita Terkait