Berbeda dengan di Indonesia yang sebagian besar masyarakatnya beragama Islam, di sini jumlah umat muslim hanya mencakup sekitar 5% populasi keseluruhan. Tak mudah untuk menjalankan ibadah puasa di negeri yang sangat terkenal dengan segala 'kebebasan'-nya ini. Sebagai warga minoritas, kami membutuhkan energi ekstra untuk 'menahan diri' selama sebulan penuh.
Contohnya tahun ini puasa Ramadan jatuh pada musim panas yang memiliki panjang hari 18 jam. Waktu Subuh jatuh sekitar pukul 04.00 dan waktu Magrib akan tiba pukul 22.00. Pada awalnya hal ini terasa berat karena pihak universitas tidak memberikan toleransi tambahan untuk mahasiswa yang sedang melaksanakan puasa Ramadan. Jadwal perkuliaahn tetap padat dan tugas tetap menumpuk.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Namun, seperti pepatah mengatakan, โselalu ada pelangi di balik hujanโ, di sinilah saya menemukan pelangi tersebut. Saya merasa cukup beruntung populasi rekan mahasiswa muslim dari Indonesia termasuk banyak di universitas ini. Kami sering berbuka bersama dengan cara mengadopsi budaya mahasiswa apa yang biasa disebut dengan โpotluckโ. Budaya ini berasal dari abad pertengahan Eropa yang oleh masyarakat modern diย Eropa dan Amerika biasa dilaksanakan untuk merayakan sesuatu. Dalam acara ini, para peserta yang datang akan membawa makanan masing-masing untuk dimakan bersama-sama.
Ratih (paling kiri berjilbab hitam) dan teman-temannya potluck saat berbuka (Foto: dokumen pribadi) |
Alhasil saat berbuka kami akan mendapatkan beragam aneka makanan yang bisa dibilang โsangat internasionalโ. Bukan karena ada mahasiswa negara lain yang ikut berbuka puasa bersama kami, namun karena sebagai mahasiswa di negara Eropa, mau tak mau kami harus bisa menjadi chef dadakan. Makanan di sini tergolong mahal dan tak terjamin kehalalannya, sehingga kami harus memasak setiap hari. Sebagai akibatnya kami pun menjadi kreatif dalam menyusun menu makanan.
Selain itu, beberapa dari kami juga sering bertukar resep dengan teman dari negara lain seperti Italia, Belanda, Korea, China, Bangladesh, dan lain-lain. Berbagai jenis macam bahan dan bumbu makanan khas Eropa maupun Asia pun dapat kami peroleh dengan mudah di toko-toko tertentu. Alhasil jadilah, menu berbuka kami dihiasi dengan menu yang mungkin baru sekali ini saya dengar seperti: rubab pie (pemberian seorang teman asal Belanda), sacher torte (cake siram coklat asli Austria kreasi seorang teman mahasiswa asli Depok, yang yummy habis), sup doenjang jjigae (Sup seafood asal Korea yang dimasak seorang teman penderita virus โKorean-addictedโ).
Kemeriahan potluck saat berbuka (Foto: dokumen pribadi) |
Namun di sela-sela masakan internasional tersebut kami juga selalu menemukan menu khas berbuka ala Indonesia seperti gorengan, es buah, gulai ayam, kerupuk maupun sambal gorengย tempe. Untuk kami yang telah lama tak pulang ke Indonesia, menemukan sajian makanan Indonesia serasa menemukan 'harta karun' pengobat rindu akan kampung halaman.
Selain berbuka bersama, kami juga tak lupa untuk melaksanakan ibadah salat tarawih berjamaah. Biasanya kami berjamaah dengan cara menyewa ruangan yang kami sebut โNumber 3โ, sebuah ruangan di asrama mahasiswa yang disediakan bagi perkumpulan mahasiswa yang ingin melaksanakan sebuah acara. Namun, tidak setiap hari kami dapat menggunakan ruangan tersebut untuk berjamaah karena banyak juga teman dari negara lain yang memesan tempat tersebut untuk acara lain.
Tarawih di ruangan asrama 'Number 3' (Foto: dokumen pribadi) |
Namun, hal tersebut bukanlah menjadi halangan untuk kami karena kami selain "Number 3", masing-masing dari kami juga memiliki kamar yang berukuran lumayan besar sehingga kami bisa menggunakannya untuk tarawih berjamaah. Sesekali kami juga kami melakukan sharing ilmu agama dan yang membuat saya bangga, saya memiliki rekan-rekan yang selain haus akanย ilmu pengetahuan mereka juga sangat haus akan ilmu agama.
Bahkan, beberapa dari mereka memiliki pemahaman ilmu agama yang sangat dalam sehingga kami bisa menjadikannya sebagai narasumber dalam berbagi kesempatan. Dari sini saya berkesimpulan bahwa perumpamaan 'selalu ada jalan keluar bagi setiap masalah' memang benar adanya. Tinggal di Eropa, bukanlah penghalang bagi umat muslim yang ingin melaksanakan ibadah terutama di bulan Ramadan. Salam dari Wageningen.
*) Ratih Sandrakirana adalah mahasiswa Indonesia yang sedang menjalani program master jurusan pemuliaan tanaman dan genetika di Universitas Wageningen, Belanda.
Bagi Anda pembaca detikcom yang memiliki pengalaman berpuasa Ramadan di luar negeri seperti yang dituliskan di atas, bisa menuliskan dan mengirimkannya ke: redaksi@detik.com. Sertakan identitas lengkap, nomor kontak yang bisa dihubungi dan foto yang mendukung kisah Anda.
Halaman 2 dari 1












































Ratih (paling kiri berjilbab hitam) dan teman-temannya potluck saat berbuka (Foto: dokumen pribadi)
Kemeriahan potluck saat berbuka (Foto: dokumen pribadi)
Tarawih di ruangan asrama 'Number 3' (Foto: dokumen pribadi)