Fahri Hamzah Dukung Usulan Dana Parpol Dinaikkan

Fahri Hamzah Dukung Usulan Dana Parpol Dinaikkan

Hardani Triyoga - detikNews
Kamis, 25 Jun 2015 22:32 WIB
Fahri Hamzah Dukung Usulan Dana Parpol Dinaikkan
Fahri Hamzah (Lamhot/detikFOTO)
Jakarta - Menteri Dalam Negeri Tjahjo Kumolo menyampaikan wacana perlunya peningkatan dana parpol hingga 10 kali lipat. Politisi PKS Fahri Hamzah menilai usulan ini wajar dan sah karena memang seharusnya naik.

"Menurut saya itu hal yang sah dan wajar. Saya dukung Jokowi kalau mau hilangkan korupsi maka keuangan parpol dikendalikan," kata Fahri di sela-sela buka puasa bersama PKS di Kalibata, Jakarta Selatan, Kamis (25/6/2015).

Dia mengatakan parpol harus memiliki mekanisme sumber dana yang jelas. Jika tidak, hal ini akan berpengaruh terhadap kemungkinan peluang korupsi yang dilakukan politikus.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

"Kalau 560 legislator tidak diatur cara mendapatkan uang maka akan cari dengan caranya sendiri," sebut Wakil Sekjen PKS itu.

Fahri menjelaskan ada tiga metode pembiayaan parpol yaitu pertama ditanggung pemerintah seperti Eropa Barat. Kemudian, ada cara pemerintah yang menyiarkan siaran televisi, pamflet uang untuk kampanye seperti di Jerman.

"Kedua, Amerika sumbangan swasta tidak dibatasi tapi kontrol diperkuat melalui pemeriksaan. Ketiga seperti di Jepang dan Kanada, diambil dari instrumen negara seperti pajak dan cukai," tuturnya.

Meski demikian, menurut Fahri, partainya tak menuntut harus di danai oleh pemerintah.

"PKS tak menuntut harus didanai, tapi kalau pemerintah menetapkan ya Alhamdulillah," tuturnya.

Sebelumnya, Mendagri Tjahjo Kumolo sudah mengajukan draft kenaikan dana parpol kepada Presiden Joko Widodo. Ia mengajukan kenaikan hingga 10 kali lipat dari dana parpol saat ini.

Kenaikan 10 kali lipat ini dianggap Tjahjo wajar jika pemerintah sudah memenuhi anggaran pendidikan, kesehatan, infrastruktur sudah optimal.

"10 kali lipat itu pantas. Kami mengajukan bantuan itu ya sepanjang prioritas anggaran untuk infrastruktur, kesehatan, dan pendidikan sudah optimal. Dan masih ada sisa baru untuk itu," sebut Tjahjo di kantornya, Rabu kemarin.

(hat/hri)


Berita Terkait