Pembunuhan di Ciledug, Polisi: Analisa Kami MR Mau Bunuh Diri

Pembunuhan di Ciledug, Polisi: Analisa Kami MR Mau Bunuh Diri

Herianto Batubara - detikNews
Rabu, 24 Jun 2015 09:20 WIB
Pembunuhan di Ciledug, Polisi: Analisa Kami MR Mau Bunuh Diri
Jakarta - Polisi mencium kejanggalan dalam kasus pembunuhan sadis terhadap PMS (13) di Ciledug. Polisi menduga luka kakak korban MR (17) bukan karena diserang seseorang, melainkan karena mencoba bunuh diri.

"Analisa kami (MR) mau bunuh diri tapi dia berasa sakit, keburu jatuh pingsan. Kemudian sadar, dia teriak minta tolong," kata Kasat Reskrim Polrestro Tangerang Kota AKBP Sutarmo saat ditemui detikcom di ruang kerjanya, Selasa (23/6/2015).

"Karena dia (MR) teriak itulah warga kemudian datang sehingga nyawanya masih terselamatkan," sambung Sutarmo menegaskan.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Peristiwa pembunuhan sadis terhadap PMS terjadi Minggu (7/6/2015) lalu di rumah kontrakan keluarganya di Gang Haji Ridi Sumardi, Jalan Masjid Al Baido, RT 03 RW 05 Kampung Dukuh, Kelurahan Sudimara, Kota Tangerang, Banten. Ia ditemukan tewas di depan kamar mandi dengan luka tusuk di leher.

Awalnya beberapa warga Kampung Dukuh mendengar ada suara minta tolong sekitar pukul 15.30 WIB. Setelah dicari, suara itu ternyata suara MR yang tergeletak di depan pintu kontrakannya dengan luka tusuk di leher.

Saat itu, kepada warga MR mengatakan ada seorang pria bertubuh besar dan bermasker yang menyerang dia dan adiknya. Ketika dicari, warga melihat PMS sudah tergeletak bersimbah darah dengan posisi telungkup di depan pintu kamar mandi.

Warga juga sempat memeriksa seluruh ruangan rumah tersebut, namun tak ada sosok pelaku yang disebut-sebut MR bertubuh besar dan bermasker itu. Saat kejadian hanya ada MR dan korban karena kedua orangtuanya yang sehari-hari berdagang sayur di kontrakan tersebut tengah pergi.

Pengakuan tersebut disampaikan oleh beberapa warga termasuk Hj Eryanti yang warungnya persis membelakangi rumah korban.

"Warung saya itu persis di belakang tempat kejadian. Kamar mandi saya di balik temboknya itu persis ruang tengah mereka. Saya ada di dalam warung pas kejadian, dan enggak dengar ada suara apa-apa. Waktu itu juga seingat saya sepi.Β  Enggak dengar ada ribut-ribut, atau suara apa," kata Eryanti.

"Semua warga, anak-anak kecil di sini juga ditanya-tanya enggak ada yang lihat ada orang besar pakai masker pas kejadian atau sebelumnya," sambung Eryanti menegaskan. Warga lainnya ibu Hayati juga mengatakan hal yang sama. Pun demikian dengan beberapa warga lain yang ikut nimbrung dalam perbincangan. Semua mengaku masih heran dengan peristiwa tersebut.

Polisi sendiri hingga saat ini belum menetapkan tersangka dalam kasus kematian PMS ini. Polisi masih mencari pembuktian-pembuktian, salah satunya dengan memeriksa DNA sperma yang ditemukan pada kemaluan korban saat kejadian. Pemeriksaan tes DNA sperma ini sudah kali kedua dilakukan polisi karena yang pertama belum membuahkan hasil.

Selain itu, sejak kemarin, Selasa (23/6) polisi juga melakukan tes kejiwaan terhadap MR. Hal itu dilakukan karena keterangan MR kepada dokter yang memeriksanya selalu berubah-ubah. Jika di awal MR menyebut pelaku penyerang dirinya dan adiknya adalah pria bertubuh besar dan bermasker, keterangan berikutnya ia menyebut pelakunya adalah jin. (hri/ega)


Berita Terkait