Pertama Puasa di Belanda, Sofi Dikhawatirkan Teman Kuliah Dehidrasi

Ramadan 2015

Pertama Puasa di Belanda, Sofi Dikhawatirkan Teman Kuliah Dehidrasi

Nograhany Widhi Koesmawardhani - detikNews
Jumat, 19 Jun 2015 07:23 WIB
Pertama Puasa di Belanda, Sofi Dikhawatirkan Teman Kuliah Dehidrasi
Foto (Facebook/ Sofi Hanim)
Jakarta - Agustus 2013 adalah bulan yang membahagiakan buat Sofi Hanim Latifah. Impiannya untuk belajar di luar negeri tercapai. Dia berangkat untuk belajar di jurusan Sistem Informasi Geografi Universitas Wageningen, Belanda. Suka duka dia jalani, termasuk ibadah puasa Ramadan pertama.

"Waktu puasa pertama itu sekitar Juli 2014. Saat itu saya diam-diam saja. Hingga teman-teman menawari makan, terus saya bilang 'Saya nggak boleh makan'," jelas perempuan berjilbab lulusan Fakultas Pertanian Universitas Brawijawa ini saat berbincang dengan detikcom.

Lantas teman-teman dari berbagai negara itu juga menawarinya minum. Lagi-lagi Sofi menolak. "Saya juga tak boleh minum," respons Sofi kala itu.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Teman-temannya penasaran, mengapa dirinya tidak mau makan dan minum. Sofi pun menjelaskan bahwa sebagai umat Islam, dia sedang menjalankan kewajiban berpuasa Ramadan.

"Teman-temanku kaget pertamanya. Ada yang bilang, 'Itu kan bahaya buat kamu. Kamu nanti bisa dehidrasi lho. Kalau nanti kamu dehidrasi, kamu nanti bisa berhalusinasi'," tutur Sofi terkekeh.

Maklum, saat Juli 2014 itu suhu di Belanda sedang musim panas. Kira-kira sama panasnya dengan di Jakarta tempat Sofi berkarier sebagai PNS. Namun, panas di Belanda kering.

"Pukul 03.00 sudah masuk Subuh. Magribnya baru pukul 22.00. Jadi puasanya bisa 19 jam," jelas dia.

Namun demikian, setelah teman-temannya mengetahui, Sofi langsung mendapatkan respek. Meski mayoritas teman-temannya bahkan tidak menganut agama tertentu, mereka tetap menghormati Sofi yang sedang berpuasa.

"Mereka akhirnya tidak makan-minum di depan saya yang sedang berpuasa," tutur dia.

Untuk sahur dan buka, Sofi yang tinggal di asrama unik yang terbuat dari kontainer bekas ini berusaha untuk masak sendiri. Terkadang bila tak sempat masak, Sofi membeli makanan.

"Beli sekalian buat buka dan sahur," kata dia.

Untuk masalah salat, di kampusnya memang tersedia ruang ibadah. Namun ruang ibadah yang bernama 'Silent Room' itu diperuntukkan untuk mahasiswa dengan semua agama.

"Jadi waktu salat, bisa saja ada yang meditasi di ruang serupa. Atau waktu salat, ada mahasiswa agama lain yang sedang membaca kitab suci," jelas Sofi.

Di bulan Juli 2014 lalu, selain berpuasa di Belanda, Sofi menghabiskan separuh Ramadan dengan backpacker-an keliling Eropa timur. Di negara-negara itu, Sofi juga sempat kerepotan mencari tempat ibadah karena jarang ditemukan musala atau masjid.

"Ya kalau bisa dijamak di hostel ya dijamak. Kalau tidak, ya salat saja di tempat-tempat kosong seperti bangku taman. Pertama-tama malu karena banyak dilihat orang. Orang-orang menoleh penasaran. Tapi lama-lama jadi tebal muka juga. Kan tidak pakai mukena, pakai jilbab dan kaos kaki saja," jelasnya.

Di hostel backpacker dengan bentuk asrama campuran, Sofi juga sempat membuat backpacker lain terkaget-kaget. Gara-garanya, saat malam-malam di saat backpacker lain tidur, dia menjalankan salat Isya. Tak dinyana, salah satu backpacker lain terbangun dan kaget.

"Aku pikir sudah tidur semua. Waktu salat itu pakai mukena, dan tiba-tiba ada yang bangun, terus berteriak kecil "Ya Ampun!"" kenang Sofi yang akan mengakhiri studi masternya di Belanda pada Agustus 2015 ini. Pengalaman berpuasa di tahun 2014 itu tak akan dilupakan Sofi untuk memperkaya perjalanan hidupnya.

Bagi Anda pembaca detikcom yang memiliki pengalaman berpuasa Ramadan di luar negeri seperti yang dituliskan di atas, bisa menuliskan dan mengirimkannya ke: redaksi@detik.com. Sertakan identitas lengkap, nomor kontak yang bisa dihubungi dan foto yang mendukung kisah Anda. (nwk/nrl)


Berita Terkait