Urusi Kru MetroTV, SBY Terpaksa Dibangunkan Tengah Malam
Sabtu, 19 Feb 2005 13:50 WIB
Jakarta - Di tengah istirahat malamnya, tiba-tiba ruang tidur Presiden SBY diketuk. Ada kabar penting: dua kru MetroTV yang hilang di Irak muncul di televisi asing. Mereka berdiri dengan pengawalan pria bersenjata laras panjang.Segera saja SBY meninggalkan kasur empuknya dan berpakaian rapi. Dipanggilnya perwakilan TV Aljazeera dan APTN, televisi yang pertama kali menayangkan gambar sandera Meutya Hafid dan Budiyanto itu.Detik-detik penting di atas diceritakan oleh Juru Bicara Kepresidenan urusan Luar Negeri, Dino Pati Djalal, dalam perbincangan dengan detikcom, Sabtu siang (19/2/2005).Dino menceritakan, Jumat pukul 19.00 WIB, Presiden memberikanstatement di Istana walau pada saat itu belum ada kejelasan nasib kedua reporter tersebut. Lalu pada pukul 24.00 APTN menayangkan rekaman video penyanderaan."Presiden lalu dibangunkan dan langsung mengambil keputusan untuk memenuhi permintaan penyandera," cerita Dino. Permintaan penyandera itu adalah meminta klarifikasi dari pemerintahan Indonesia tentang status dan tujuan 2 kru MetroTV tersebut.Lalu Presiden memanggil perwakilan TV Aljazeera dan APTN. "Pada pukul 01.00 WIB (Sabtu dinihari), Presiden memberikan konfirmasi tujuan kedatangan kedua reporter itu. Dua jam kemudian rekaman itu langsung ditayangkan di sana (Irak)," urai Dino."Semoga pada saat itu para penyandera langsung melihatnya," harap diplomat muda ini.Seperti diketahui, klarifikasi Presiden SBY itu berbunyi, "Kedua wartawan itu melakukan tugas kewartawanan, mereka meliput, tidak ada kaitan dengan politik, atau melibatkan diri dengan politik. Mereka datang dengan rasa persahabatan. Karena itu, saya mengimbau, meminta, mereka yang melakukan tindakan, apalagi kalau itu penculikan, segera membebaskan mereka karena mereka tidak bersalah."Sayangnya, hingga kini para penyandera belum memberikan respons.
(nrl/)











































