Priyo: Perlu Political Will Jokowi Stabilkan Ekonomi

Priyo: Perlu Political Will Jokowi Stabilkan Ekonomi

Hardani Triyoga - detikNews
Rabu, 10 Jun 2015 16:02 WIB
Priyo: Perlu Political Will Jokowi Stabilkan Ekonomi
Jakarta - Presiden Joko Widodo dikabarkan akan segera melakukan reshuffle kabinet kerja untuk mengoptimalkan pemerintahan terutama di sektor ekonomi. Namun sebenarnya ada langkah-langkah yang penting dan harus dilakukan Jokowi untuk membangkitkan kembali perekonomian nasional.

Menurutnya eks Wakil Ketua DPR Priyo Budi Santoso, yang terpenting bisa dilakukan Jokowi-JK saat ini menciptakan kepemimpinan dwi tunggal untuk memimpin sektor ekonomi. Diakuinya, bidang ekonomi tak bisa mengimbangi menurunnya kondisi ekonomi global.

"Presiden Jokowi membutuhkan political will. Jokowi bersama JK, harus menjadi dwi tunggal dalam penyelamatan bidang ekonomi di tengah situasi ekonomi dunia yang tak kondusif. Saya kira ini masih banyak waktu untuk perbaikan," kata Priyo dalam diskusi 'Mencegah Kemiskinan di Tengah Kemakmuran' di Pridem Center, Jl Cipaku, Kebayoran Baru, Jakarta Selatan, Rabu (10/6/2015).

Kalaupun Jokowi akan menempuh langkah reshuffle kabinet, menurut Priyo, itu sah-sah saja. Karena reshuffle kabinet sepenuhnya hak prerogatif presiden, apalagi Jokowi sendiri sudah menyatakan reshuffle kabinet akan disesuaikan dengan kebutuhan.

"Kabinet kredibel yang lebih baik dibutuhkan. Jika ada keperluan mereshuffle maka ya sudah. Saya kira itu kekendak alam yang jangan dikritik," kata Waketum Golkar hasil Munas Ancol ini.

Di dalam forum yang sama, Ketua Majelis Pertimbangan Partai Amanat Nasional (PAN) Sutrisno Bachir mengimbau agar tak pesimis dengan pemerintahan Jokowi. Usia tujuh bulan yang sudah dijalani pemerintahan Jokowi belum bisa dijadikan acuan.

"Jangan pesimis, ini baru tujuh bulan. Kalau kita pesimis terus, ini akan berbahaya. Proses demokrasi itu lima tahunan sekali, kita harus terbiasa menghargai proses demokrasi itu," ujarnya.

Ia menilai menurunnya sektor ekonomi yang membuat harga barang naik ikut dipengaruhi krisis ekonomi global. Kondisi ekonomi global yang kembali terjadi sejak 2012 berimbas ke negara seperti Indonesia.

"Hanya India yang stabil. Ini enggak bisa disamakan dengan pemerintahan SBY. Karena imbas krisis global dunia dirasakan pemerintahan Jokowi," ujar mantan Ketum PAN itu.

(hat/van)



Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 


Hide Ads