Pada dasarnya, ketiga ide yang menjadi finalis di Jakarta Urban Challenge itu sudah menjadi pemenang. Meski menjadi juara 3 dan 2, mereka tetap mendapatkan hadiah dana untuk mengimplementasikan ide mereka. Juara 1 akan mendapatkan hadiah dana sebesar US$ 10 ribu, juara 2 akan mendapat US$6 ribu dan juara 3 akan mendapatkan US$4 ribu.
Ide mereka akan dinilai oleh juri yang terdiri dari antara lain Chairman New Cities Foundation John Rossant, pendiri Grameen Bank penerima Nobel M Yunus, Kepala Tim Gubernur DKI untuk Percepatan Pembangunan Jakarta Sarwo Handayani, Deputi Gubernur bidang Transportasi, Perdagangan dan Industri Sutanto Suhodo dan pakar transportasi urban dari Bank Dunia Ke Fang.
1. Aplikasi Mobile 'Jalan Aman' untuk Komuter Perempuan
|
(Foto: Nograhany Widhi K)
|
"Ini aplikasi mobile yang kami buat untuk komuter perempuan. Memakai georeference, nanti bisa mengetahui jalan atau jalur angkutan kota yang sedang tidak macet. Juga misalnya ada kejahatan atau pelecehan, perempuan bisa memberitahu melalui aplikasi ini," jelas pemimpin tim aplikasi 'Jalan Aman', Paulista Surjadi (25) saat berbincang dengan detikcom di arena New Cities Summit 2015, Ciputra Artpreneur, Kasablanka, Jakarta, Selasa (9/6/2015).
Bersama 4 rekan setimnya, Hasanatun Nisa Thamrin (28), Lucia Artivia (28), Rizqa Hidayani (27) dan Bima Pratama (26), Paulista menggagas ide ini sejak Maret 2015 saat pengumuman Jakarta Urban Challenge dibuka. Paulista mengibaratkan aplikasi ini seperti aplikasi pemantau lalu lintas Waze, bedanya ada item untuk mengetahui moda transportasi di Jakarta, juga panic button bila pemakai aplikasi mengalami pelecehan atau kejahatan di jalan.
"Misalnya, ini angkutan umumnya berwarna hijau, berarti sedang tidak ramai. Kalau merah, berarti ramai. Atau ada yang melaporkan pelecehan di jalan, semua dapat dipantau," jelas dia.
2. Aplikasi Mobile 'Squee' Penemu Jalan Kampung bagi Pejalan Kaki
|
(Foto: Nograhany Widhi K)
|
Aplikasi Squee dikembangkan sekelompok orang muda, Arlene Nathania (32) seorang arsitek yang sedang mengambil program doktoral di Hafencity Universiteit, Hamburg, Jerman, bersama 3 rekannya yakni Marissa Pudjiadi (32), seorang dokter spesialis anak yang pernah belajar di Hamburg; kemudian Dicke Nazzary Akbar (30), arsitek rekan mahasiswa doktoral Arlene di Jerman; dan Edy Haryono (32), seorang web developer.
Arlene dan kawan-kawan melihat keunggulan Kota Jakarta yang masih banyak kampung-kampung di antara gedung-gedung tinggi. Jalan di antara kampung lebih banyak keuntungan, lebih cepat, dengan lingkungan yang kadang masih kondusif dan sejuk karena banyak tanaman.
"Jalan-jalan di kampung lebih hijau dan bebas polusi. Masalahnya, jalan di kampung-kampung ini banyak yang tidak terpetakan," jelas Arlene.
Untuk itu, Arlene dan kawan-kawan membuat aplikasi social media yang akan memetakan jalan kampung alias jalan tikus di Jakarta dengan cara crowd sourcing. Para pengguna secara partisipatif memberikan informasi jalan-jalan 'tikus' plus keunggulan kampung-kampung tersebut.
"Mungkin ada yang beri informasi tentang keunggulan kampung tersebut, kisah-kisah aneh, lucu sampai kalau ada bakso enak bisa diinformasikan, kuliner di kampung-kampung itu. Jadi bisa memberdayakan ekonomi di kampung itu juga," jelas dia.
Tak tertinggal, panic button atau fungsi tanda bahaya bila pejalan kaki pemakai aplikasi mengalami tindak kejahatan.
"Ada panic button untuk kriminal. Cuma kami masih mencari yang nyaman buat pengguna. Apakah di-swipe atau ditekan. Nanti mungkin akan ada bunyi atau getaran peringatan bagi pemakai lainnya dalam jarak tertentu supaya mereka bisa segera menolong," tutur Arlene.
3. Cyclist Urban System (CUS) untuk Shelter Pesepeda
|
(Foto: Nograhany Widhi K)
|
"Idenya ini shelter untuk refreshment pesepeda. Shelternya nanti akan kami buat dari peti kemas bekas. Selain itu kenapa kita namakan Cyclist Urban System biar enak nyebutnya, CUS. Ayo kita nge-Cus," jelas Ria Pratama Ishana saat berbincang dengan detikcom di arena New Cities Summit 2015, Ciputra Artpreneur, Mal Ciputra World, Jakarta, Kasablanka, Jakarta, Selasa (9/6/2015).
Di dalam shelter itu, nanti akan ditempatkan sejumlah fasilitas seperti toilet, di mana para pesepeda yang berkeringat bisa mandi, loker untuk menaruh barang, kemudian bisa nge-charge baterai gadget, beli makan-minum dengan vending machine, bengkel, P3K, hingga nongkrong. Di depan shelter itu ada tempat parkir sepeda.
"Nanti juga akan kita kombinasikan dengan sistem bike sharing (sistem sewa sepeda bersama). Sudah ada pihak yang mau bekerja sama," timpal Khairunnisa yang akrab dipanggil Ucha ini.
Shelter ini bisa didirikan baik di dalam ruangan seperti mal atau di luar ruangan. Mereka akan membuat shelter pesepeda ini dengan model bisnis franchise.
"Jadi siapa yang berminat membuka franchise CUS ini akan membayar sejumlah biaya lisensi pada kami. Satu shelter lengkap sudah di-set kami hargai Rp 75 juta," tutur dia.
Lantas, dari mana masukan pendapatan pembeli franchise?
"Para pengguna CUS akan membayar sejumlah tarif, namun kami pastikan, biayanya lebih murah dibanding kalau naik motor. Kami juga mengincar advertisement yang dipasang di papan shelter CUS. Kemudian, keuntungan bisa juga didapatkan dari penjualan makan-minum," tutur Ria.
Halaman 2 dari 4










































