Kepala Terminal Kampung Rambutan Laudin Situmorang mengatakan modus ini sudah dilakukan dalam beberapa tahun terakhir. Korban pun banyak bermunculan.
"Itu sering banget. Penjual kacamata cuma Rp 30 ribu dijual Rp 200 ribu. Mereka maksa itu. Sama juga jam tangan yang cuma Rp 20 ribu bisa dipaksa mereka jadi Rp 300 ribu," kata Laudin di Terminal Kampung Rambutan, Jakarta Timur, Selasa (9/6/2015).
Laudin menyebut modusnya saat bus sebelum berangkat, pelaku mulai melakukan aksinya karena penumpang di dalam bus masih sepi. Biasanya korbannya juga sengaja dicari penumpang perempuan.
"Biasanya juga dia pertama nawarin terus mungkin modusnya keluarin senjata tajam pisau gitu buat nakut-nakutin. Kalau enggak ya maksa-maksa. Yang kayak begini susah dideteksi," tuturnya.
Maka, ia pun berharap agar pemudik bisa menyesuaikan kondisi agar tidak berpenampilan berlebihan. Selain itu, tak perlu takut untuk meminta tolong kepada orang lain yang berada di dekatnya.
Saat ini, kata dia, sebagai pengelola ada rencana untuk meminta tambahan petugas reserse. "Petugas reserse ini yang nggak diketahui mereka. Pakaian preman, ketahuan langsung sikat. Biar ada efek jera mereka," ujarnya.
Sementara, Kanit Lantas Polda Metro yang membawahi Pulogadung AKP Subiantoro mengatakan persoalan copet masih jadi persoalan di Terminal Pulogadung. Ia menyebut copet ini beraksi dalam komplotan.
Saat beraksi, komplotan copet ini juga menggunakan modus berpura-pura jadi pemudik dengan penampilan yang rapi.
"Nah, itu mereka komplotan. Ini yang masih parah dan sering kejadian di H-7. Pakaian rapi lalu di dalam bus ada yang ngebeset tas penumpang," tutur Subiantoro di Terminal Pulogadung, Jakarta Timur, hari ini.
(hat/slh)











































