"Sekarang saya masih tinggal di Solo sambil mengajar les, tapi orang tua saya di Ngawi, Jawa Timur. Bapak saya dulunya adalah buruh tani, kalau ibu jadi pembantu rumah tangga," ungkap Devi saat berbincang melalui sambungan telepon dengan detikcom, Minggu (31/5/2015).
Dia bercerita bahwa pekerjaan ayahnya menjadi buruh tani tak cukup untuk menopang hidup keluarga. Maka dari itu sang ibu juga turut membanting tulang.
Tetapi beberapa tahun lalu kesehatan sang ayah menurun dan terkena katarak sehingga tak bisa lagi menjadi buruh tani. Setiap hari ayahnya harus di rumah dan harus ada yang merawat.
"Makanya ibu saya juga sudah tidak setiap hari jadi pembantu. Tapi kebetulan rumah majikannya sekarang kosong karena majikan ibu saya sekarang tinggal sama anaknya. Jadi seminggu sekali ibu saya menyapu rumah itu dan setiap bulan dapat Rp 300.000," tutur Devi.
Tentu jumlah itu tak bisa disebut cukup. Untungnya Devi mendapat beasiswa Bidik Misi selama kuliah.
Bidik Misi adalah program beasiswa Kemendikbud untuk mahasiswa berprestasi dari keluarga kurang mampu. Setiap bulan dia mendapat biaya hidup Rp 600 ribu dan gratis biaya kuliah. Tentu saja dia mempertahankan prestasinya untuk terus mendapatkan beasiswa pemerintah itu.
"Kalau ada sisa dari uang itu, saya kirim ke orang tua saya. Kadang Rp 50.000, Rp 100.000, tidak mesti. Selain itu saya juga ngajar les, jualan baju resell, pokoknya apa saja yang penting halal," papar anak bungsu dari 3 bersaudara ini. Tak seperti dirinya, kedua kakaknya tamatan SD.
Tak hilang dari benaknya ketika ibunya harus diopname di rumah sakit. Hatinya tak tenang untuk berada jauh dari ibunya sehingga dia semakin sering bolak-balik Solo-Ngawi untuk menjaga ibunda tercinta.
Tentu biaya perawatan di rumah sakit tidak murah, sehingga dia harus bekerja semakin giat. Ketika itu dia juga berhadapan dengan ujian semester dan jadwal kuliah penuh 24 SKS.
"Saya juga jadi asisten dosen waktu itu. Hitung-hitung ada tambahan juga. Setelah ibu sembuh, sekarang kesehatannya tidak seperti dulu. Harus banyak istirahat di rumah. Makanya kalau saya pulang, saya juga bantu-bantu jualan sayur atau tahu bacem. Tapi memang tak ada yang mengalahkan doa ibu, karena dengan doa ibu saya bisa belajar dengan mudah. Sepadat apa pun kegiatan saya, saya bisa langsung mengerti pelajaran dengan cepat," sebut Devi.
Tak hanya mencari uang tambahan saja, rupanya Devi juga menyempatkan diri aktif di berbagai organisasi di kampusnya. Dia adalah anggota aktif dari Gerakan Mahasiswa Nasional Indonesia (GMNI), Solo Mengajar, dan pers mahasiswa. Namun itu semua tak membuat prestasinya mengendur.
Kini Devi telah lulus dengan lama studi hanya 3 tahun 6 bulan, sebuah waktu yang cepat untuk rata-rata mahasiswa Jurusan Ilmu Hukum di UNS. Usia yang masih belia membuat Devi bersemangat untuk meneruskan studi ke jenjang magister.
"Sekarang saya mencari-cari beasiswa untuk S2. Kemarin sempat ada tawaran kuliah di Australia. Selain itu ada juga yang menawarkan jadi reporter, lalu dari ikatan alumni ada yang mengajak kerja di kejaksaan. Tapi belum tahu di kejaksaan wilayah mana," ungkap Devi.
Dia lalu bercerita bahwa menempuh jalur kuliah tidaklah biasa bagi pemuda-pemudi di kampungnya. Kebanyakan dari mereka bermimpi untuk menjadi TKW atau TKI yang sukses.
Lalu, apa jadinya kalau dia dulu jadi TKW dan tak kuliah?
"Dulu saya pengin jadi buruh pabrik atau jadi pembantu di Jepang. Tapi sekarang sudah berubah setelah kuliah. Saya ingin mencari beasiswa lalu sekolah lagi dan jadi dosen. Kita jangan berpikir menempuh pendidikan untuk kerja, tapi pendidikan untuk mengubah pola pikir," ujar Devi penuh semangat.
Mendapatkan beasiswa dan menjadi dosen adalah hal yang terpikir oleh Devi untuk masa depannya. Langkah itu juga dia ambil agar mendapat penghasilan tetap dan membantu pengobatan orang tuanya.
"Saya mau cari uang untuk biaya operasi katarak Bapak," ucap dia.
(Bagus Prihantoro Nugroho/Nurul Hidayati)











































