Laksdya Slamet Soebijanto, Matang di Kapal Perang

Laksdya Slamet Soebijanto, Matang di Kapal Perang

- detikNews
Kamis, 17 Feb 2005 13:56 WIB
Jakarta - Laksamana Madya TNI Slamet Soebijanto ditetapkan sebagai Kepala Staf Angkatan Laut (KSAL) yang baru menggantikan Laksamana Bernard Kent Sondakh. Tamatan AAL 1973 ini matang di kapal perang. Pria kelahiran Mojokerto, 4 Juni 1951 ini mengawali penugasannya sebagai perwira TNI AL di KRI Thamrin sebagai Kasie Navi (1974). Kemudian Slamet ditugaskan sebagai Kadep No KRI Topak (1975), Kadep Senbah KRI Nusatelu (1975), Pa Muat KRI Teluk Sampit (1976), Palaksa KRI Kompas (1977), Palaksa KRI Siberau (1979), dan Kadep Navop KRI Rakata (1980). Setelah itu, karir Slamet di atas Kapal Perang juga masih panjang. Slamet bertugas sebagai Padiv PIT KRI Ngurah Rai (1983), Komandan KRI Siluman (1984), Kadep Navop KRI Martadinata (1985), Kadep Ops KERI Rencong (1988), Komandan KRI Pulau Ratewoi (1989). KLasilingstra Ditdik Seskoal (1991), Komandan KRI Monginsidi (1994), Sahli E Pangarmatim, Kasudistrati Ditopslatal (1996), Paban V Straops Straops Sops KSALb (1997), dan Asrena Pangarmatim (1998). Selanjutnya, karir suami Sonya Henny Soedjud ini makin bersinar. Pada tahun 1999, Slamet diangkat sebagai Waaserena KSAL, pada tahun 2000 menjabat sebagai Waasrenum TNI, tahun 2002 menjabat sebagai Komandan Kodikal, tahun 2003 menjabat sebagai Pangkoarmatim, dan terakhir menjabat sebagai wagub Lemhannas (2003). Slamet merupakan salah satu perwira terbaik AL yang kini dipercaya sebagai KSAL ke-19. Dari 32 tahun pengabdiannya di TNI AL, selama 17 tahun dia dimatangkan dalam berbagai penugasan di kapal perang. Slamet juga dikenal ramah dan sederhana, tapi memegang teguh prinsip, berdedikasi dan berdisiplin tinggi. Kini, hasil dari pernikahannya dengan Sonya Henny, Slamet telah dikaruniai 5 orang anak. Riwayat pendidikannya juga cukup bejibun. Selain memiliki riwayat pendidikan di dalam negeri, Slamet juga pernah belajar di luar negeri. Antara lain, AAL (1973), Naval Gunfire Course (1976), NBCD Coures, Belanda (1979), Sys. Weapon Comm Crs, Belanda (1979), Navigation CTT, Den Helder (1979), Seskoal (1989), OPerational Art, Yugoslavia (1990), Sesko ABRI (1994), dan Lemhannas (2001). Sejumlah tanda jasa juga telah diterima Slamet. Antara lain, Bintang Dharma, Bintang Yudha Dharma Pratama, Bintang Yudha Dharma Nararya, Bintang Jalasena Pratama, Bintang Jalasena Nararya, Satyalancana Seroja, Satyalancana Kesetiaan XXIV, dan Satyalancana Dwidya Sistha. (asy/)



Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 


Hide Ads