Curhat Warga Nepal Ketika Tunjukkan Runtuhan Rumah di Kathmandu

Laporan dari Nepal

Curhat Warga Nepal Ketika Tunjukkan Runtuhan Rumah di Kathmandu

- detikNews
Rabu, 06 Mei 2015 12:13 WIB
Curhat Warga Nepal Ketika Tunjukkan Runtuhan Rumah di Kathmandu
Rumah runtuh akibat gempa 7,9 SR di Nepal (David/detikcom)
Nepal, -

Gempa berkekuatan 7,9 SR mengguncang Nepal pada 25 April lalu. Sudah berlalu 11 hari, reruntuhan bangunan di Ibu Kota Nepal, Kathmandu, masih mudah ditemukan. Seorang warga Nepal kemudian menunjukkan sudut-sudut tersembunyi reruntuhan rumah warga setempat.

"Saya akan tunjukkan di pusat kota ini ada rumah yang miring, runtuh dan retak-retak. Tapi karena di pusat kota, belum ada bantuan dari pemerintah kami," kata warga Kathmandu, Ammar kepada detikcom, Rabu (6/5/2015).

Ammar lalu menggiring menuju gang-gang kecil di kawasan wisata Kathmandu, seperti Jalan Swachapu Marga, Massa Gali, hingga Ratna Park. Gedung-gedung 2 sampai 4 lantai di ruas jalan tersebut tampak masih kokoh berdiri. Namun ternyata, di balik gedung-gedung yang didominasi toko suvenir hingga hotel itu ada satu atau dua gedung yang roboh akibat gempa.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

"Di sini turis hanya tahu Kathmandu selamat dari gempa. Tapi sebenarnya di balik pariwisata sini ada rumah warga yang roboh. Anehnya, rumah roboh itu kiri kanannya tidak roboh," ujar Ammar.

Salah satu gedung yang jadi rumah untuk 5 keluarga di Kathmandu tampak roboh setengah bagiannya. Namun gedung yang tampak lebih tua di kiri kanannya masih berdiri dengan sedikit retakan.

"Gempa pekan lalu banyak menghancurkan rumah di Kathmandu, tapi rumah yang roboh itu bukan karena tua atau baru, tapi memang karena mereka kurang beruntung," ucap Ammar.

Kemudian Ammar mulai menceritakan penderitaan korban gempa di Kathmandu yang kehilangan rumah. Menurut Ammar, bantuan untuk korban gempa di Kathmandu hampir tidak ada. Mereka harus membeli sendiri tenda mereka, penghasilan mereka lumpuh dan tak ada air bersih.

"Pemerintah sangat lamban di sini, sudah hampir 10 hari tak ada perhatian. Jadi kita masyarakat terbiasa untuk bertahan hidup sendiri dan tidak mengandalkan pemerintah. Politik di sini sangat berbeda dengan Indonesia, yang masyarakatnya bisa turun ke jalan menuntut hak mereka ke pemerintah," imbuh Ammar.

Curhatan Ammar tak berhenti seiring kakinya melangkah menapaki gang-gang kecil Kathmandu. Kacamata hitam yang ia kenakan memantulkan penampakan puing-puing reruntuhan beberapa bangunan. Tak lama kemudian, ia memasuki sebuah pintu kecil yang ternyata di dalamnya adalah kuil yang dikelilingi rumah-rumah bertingkat hingga 4 lantai.

"Ini teman-teman saya yang jaga kuil ini. Seperti yang dilihat, mereka tetap berkumpul menonton televisi, mengobrol, dan hidup normal pasca gempa kemarin," pungkas Ammar.

Teman-teman yang dimaksud Ammar adalah sekelompok orang dan seorang wanita tua yang duduk di lantai kuil beratapkan jerami dengan tiang kayu. Setelah mengucapkan 'namaste', Ammar kemudian menunjukkan bangunan sekolah tua yang rusak sekitar 30 persen, Sanskrit Secondary School.

"Bangunan sekolah ini sudah cukup tua. Sekolah pun tidak beroperasi hingga dilakukan perbaikan. Pendidikan juga terkena dampak gempa, tapi bantuan baru berupa tenda-tenda dan makanan serta minuman. Belum ada bantuan untuk anak-anak Nepal yang ingin tetap belajar," kata Ammar.

"Indonesia lebih baik menurut saya, kalian punya 'Ring of Fire' dan empat elemen bencana. Tsunami, gempa, gunung berapi dan badai. Kami juga ada gempa, tapi Indonesia lebih banyak pengalaman menghadapi bencana seperti ini dengan penanganannya yang cepat seperti AirAsia waktu itu," tambahnya.

Akhirnya langkah kaki pria berusia 50 tahun itu berakhir di depan pintu rumahnya di tengah Kathmandu. Rumahnya masih berdiri dengan sedikit retakan kecil di dinding dalam ruangan.

"Rumah saya baik-baik saja, hanya retakan saja. Tapi saya belum bisa buka toko saya. Mungkin besok akan saya buka. Tapi terima kasih sudah bersedia melihat nasib kami setelah gempa, karena bantuan dari negara-negara asing hanya terpusat ke pusat kemah pengungsi, sementara kami di sini tak semuanya tinggal di sana," ucap penjual batu mulia dan gemstone lokal tersebut.

(vid/bar)



Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 


Hide Ads