Dewi Anggraeni, gadis cilik yang sebelumnya harus mengemis untuk melunasi utang almarhum ibunya, menjalani pemeriksaan kesehatan dan psikologis. Tujuannya untuk mengetahui apakah selama ini siswa kelas 3 SD itu pernah mengalami tindakan kekerasan.
"Ini kita bawa untuk dicek kesehatannya, apakah Dewi pernah mengalami tindak kekerasan oleh ibu asuhnya apa tidak, atau ada tindakan-tindakan lain yang pernah dialami. Kami belum tahu, makanya kita bawa ke sini," kata Musaffa, guru ngaji yang juga pemilik Rumah Singgah Sri Rahayu saat memeriksakan Dewi di Klink dr Koent, Banyumas, Jawa Tengah, Minggu (3/5/2015).
Setelah beberapa lama, hasil pemeriksaan keluar. "Hasil pemeriksaan bagus, di-rontgen sama cek kesehatan paru-paru, secara keseluruhan sehat. Tidak ditemukan juga bekas kekerasan," kata dr Esculanto Edhi Hanantoro, usai memeriksa Dewi.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Menurut dia, lingkungan tempat tinggal Dewi sangat berpengaruh terhadap kehidupannya. Hal ini dapat dilihat dari pendapat di lingkungannya bahwa mengemis dianggap sebagai pekerjaan yang normal.
"Ini kerusakan mental akut, karena lingkungan menganggap mengemis itu adalah sebuah pekerjaan yang normal," ujarnya
Saat ini gadis kecil yang sebelumnya harus mengemis sepulang sekolah hingga larut malam dan harus setor Rp 50 ribu per hari itu tidak lagi gelisah setelah ditampung di Rumah Singgah Rahayu. Senyumnya lebar ketika bermain bersama teman-teman sebayanya, tidurnya pun sudah pulas.
Dalam waktu dekat Dewi akan dibawa ke Panti Sosial Petirahan Anak (PSPA) 'Satria' di Baturaden, karena di sana terdapat Rumah Sosial Perlindungan Anak (RSPA) yang sementara akan merawat Dewi. Satu hingga dua bulan setelah itu Dewi akan dicarikan orang tua asuh yang bersedia merawat Dewi hingga dewasa. (arb/nrl)











































