"Demokrasi itu kita semua harus sabar. Jadi tidak boleh take over dalam pengertian misalnya kudeta, nggak boleh," kata Ketua Fraksi Golkar DPR Ade Komaruddin di Gedung DPR, Senayan, Jakarta, Jumat (24/4/2015).
Tommy Soeharto sebelumnya dinyatakan Ketua Dewan Pertimbangan Golkar Akbar Tandjung mengusulkan adanya Munas Islah di 2015 ini.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Usulan Munas semacam itu yang mengarah ke Munas Luar Biasa seperti demikian harus memenuhi syarat sebagaimana yang digariskan aturan, yakni adanya dukungan sebanyak 2/3 dari pemegang suara Munas.
"Langkah-langkah itu kita sambut positif saja sebagai bahan diskusi, tetapi tidak boleh melanggar rambu-rambu organisasi dan aturan Perundang-undangan. Saya ingin negara ini dibangun di atas demokrasi yang sehat, semua aturan yang ada tidak boleh ditabrak," tutur Ade.
Soal Tommy Soeharto sendiri, Ade berpendapat boleh saja 'putera mahkota Keluarga Cendana' itu ingin menjadi Ketum Golkar. "Adalah hak setiap keluarga Golkar untuk bisa mencalonkan apapun. Apakah mau jadi Ketum, mau jadi pengurus, adalah hak setiap keluarga Golkar, tidak bisa dibatasi apapun," imbuhnya.
Titiek Soeharto sebelumnya menyatakan kader-kader Golkar di daerah menginginkan Keluarga cendana mengambil alih kepemimpinan Golkar untuk menyelamatkan partai pohon beringin ini dari kemelut berlarut-larut.
"Daerah-daerah lama-lama bersuara, 'Jadi, keluarga Pak Harto saja deh yang ambil oper (Golkar).' Ada suara-suara seperti itu," kata Titiek di Gedung DPR, Senayan, Jakarta, Kamis (23/4).
(dnu/fdn)










































