Anak-anak itu tampak begitu berani dan sangat luwes memainkan kuda yang mereka tumpangi. Mereka terus memecut tubuh kuda agar berlari secepat mungkin.
Tak nampak ketakutan di wajah para joki kecil ini. Tak jarang mereka melepas pegangan kedua tangannya untuk memacu kuda lebih kuat.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Sudah setahun jadi joki," kata salah seorang joki kecil, Pule (6) di Lapangan Pacu Kuda Kota Bima, NTB, Jumat (10/4/2015).
Pule mengaku, ia dan kakaknya telah dilatih oleh sang ayah untuk menjadi joki. Saat masih kecil, ayahnya juga pernah menjadi joki seperti dirinya. Mereka mengaku sering jatuh pada saat awal latihan. Namun anak-anak ini tak jera.
"Sakit di kaki tapi sebentar saja. Biasanya 2 hari sembuh," ucap kakak Pule, Rendi (7) yang duduk di bangku kelas 3 SD.
Meski masih berusia sangat muda, stamina joki-joki ini begitu kuat. Dalam sehari, mereka tak hanya memainkan 1 ekor kuda, namun bisa mencapai 10 ekor.
"Sehari main 10 kuda, kadang lebih. Tapi beda-beda kategori," kata Rendi.
Menurut Rendi, setiap menjadi joki 1 ekor kuda, dirinya menerima upah Rp 50-100 ribu. Namun apabila kuda yang dinaikinya tersebut memenangkan pertandingan, ia bisa menerima upah jauh lebih tinggi.
"Kalau juara bisa dapat sampai sejuta," ujarnya sambil tersenyum.
Para joki-joki ini juga menempati karantina selama perlombaan berlangsung. Sebab dikhawatirkan ada pihak yang tidak suka dan berniat mencelakai mereka.
Salah satu pemilik kuda, Abdul Haris mengatakan, di kawasan Bima memang tidak ada joki dewasa. Sebab kuda-kuda yang dilombakan juga bukan kuda yang tinggi besar, melainkan kuda yang standar dan lincah.
"Kalau dinaiki orang dewasa, lambat nanti larinya," tutur Haris.
(kff/kha)











































