Jelang 1 Syuro, Warga Yogya Dihantui Ancaman Badai
Rabu, 09 Feb 2005 23:22 WIB
Yogyakarta - Meski sampai hari ini ancaman adanya badai belum terbukti muncul di wilayah Yogyakarta, menjelang malam 1 Syuro/Muharam, warga Yogyakarta dan sekitarnya masih dihantui perasaan takut dan was-was akan munculnya badai tersebut.Sebagian warga, terutama yang tinggal di wilayah Bantul, Kulon Progo dan Gunung Kidul hingga hari ini, Rabu (9/2/2005) masih diliputi ketakutan dan kecemasan. Mereka memilih untuk tidak bepergian dari rumah hingga ancaman badai itu hilang tanggal 12 Februari. Saat ini, mereka banyak yang tinggal di rumah, berdoa bersama atau menggelar ritual tolak bala."Saya diminta orang tua sementara tinggal di desa dulu hingga tanggal 13 Februari sampai ancaman badai itu telah lewat," kata Sukijo (37) kepada detikcom di rumahnya di Desa Srihardono Kecamatan Pundong Bantul, Rabu (9/2/2005).Sukijo yang sehari-harinya berdagang tempe dan tahu di Pasar Kranggan ini terpaksa tinggal di rumah orang tuanya bersama istri dan seorang anak. Sementara itu dia tidak berdagang dulu selama seminggu sejak hari Selasa kemarin. "Ya terpaksa, lagi pula kami sendiri juga sedikit was-was dengan adanya berita soal badai itu. Bahkan semua tetangga sekitar juga takut meski tidak ada yang ngungsi," katanya.Menurut Sukijo, ibunya sejak hari Senin dan Selasa kemarin sudah membuat lodeh kluwih atau sayur lodeh buah waluh (labu). Sedangkan hari ini keluarganya membuat nasi kuning untuk dimakan hingga sebelum maghrib sebagai penolak bala. "Sayur lodeh kluwih itu menurut ibu saya agar diluwihkan sehingga terlewat dari bencana. Sedangkan sayur lodeh waluh berarti uwal dari luh atau lepas dari tangis dan derita," jelasnya.Sementara itu berdasarkan pantauan detikcom, suasana di kawasan obyek wisata Parangtritis dan Parangkusumo hingga pukul 14.00 WIB masih lengang. Beberapa kios serta warung makan dan minum banyak yang tidak buka. Padahal hari ini adalah malam menjelang 1 Syuro dan biasanya selalu ramai dikunjungi orang bertirakat maupun beriwisata di pinggir pantai.Kawasan Parangkusumo terutama di Cepuri yang merupakan tempat sakral untuk tirakat juga masih tampak sepi. Biasanya sebelum 1 Syuro sejak siang sudah ramai didatangi peziarah, namun hingga sore hari belum banyak orang yang datang. Suasana di tempat parkir kendaraan sebelah utara Cepuri Parangkusumo dan warung-warung sekitar juga masih tampak sepi."Belum ramai yang datang, mungkin habis Isya mulai ramai dan penuh orang yang hendak tirakat. Hari ini pun angin bertiup semilir tidak terlalu kencang seperti beberapa hari sebelumnya," kata Mujiyem, seorang pemilik warung makan di Parangkusuo.
(/)











































