Adalah pemilik akun twitter @yani_bertiana yang mencuitkan rangkaian kalimat dari pesan tersebut. Hingga kini belum diketahui identitas dari pemilik akun tersebut.
"Selamat berlibur, teman-teman semua. Ini ada bocoran SMS dari Akbar Faizal kepada Yanuar Nugroho, Deputi Kepala Staf Kepresidenan," tulis @yani_bertiana dalam akun twitter itu tadi siang, Minggu (5/4/2015).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Misal ada yang membocorkan itu bukan dari saya. Kemudian orang-orang tidak mengetahui apa konteks yang sedang dibicarakan," jawab Akbar ketika dikonfirmasi detikcom.
Mengenai konteks yang dimaksud memang tak dijelaskan secara rinci oleh politikus Nasdem tersebut. Tetapi dalam cuitan @yani_bertiana disebut bahwa Akbar mempermasalahkan banyaknya lulusan Universitas Harvard, Amerika Serikat yang mengisi jabatan di Kantor Staf Kepresidenan.
"Mas Yanuar, saya merasa perlu menulis seperti ini sebab saya merasa kantor Anda terlalu jauh mendeskripsikan diri akan tugas dan kualifikasi staf sebuah kantor Kastaf Presiden. Sebenarnya saya tak perlu terlalu menanggapi soal Harvard ini," tulis @yani_bertiana mengutip pesan Akbar Faizal yang disebut bocor.
Sebelum kalimat itu, dituliskan pula bahwa Akbar menyebut satu per satu almamater orang-orang yang mengawal Jokowi saat kampanye. Akbar menekankan bahwa tak ada lulusan Harvard dari orang-orang seperti Megawati, Surya Paloh, Rieke Diah Pitaloka, Teten Masduki, hingga Luhut Binsar Panjaitan. Tapi disebutkan pula mengenai Eva Kusuma Sundari yang merupakan salah satu universitas di Inggris.
Akbar terlihat ingin menyampaikan pesan kepada Kantor Staf Kepresidenan yang diisi orang-orang non-parpol. Salah satunya adalah untuk tetap berkomunikasi dengan partai pendukung Jokowi-JK di parlemen.
Sebelumnya Akbar memang sempat menjadi Deputi Kantor Transisi Jokowi-JK yang turut pula merancang arsitektur kabinet. Tetapi Akbar kemudian tak masuk ke dalam ring-1 Istana.
"Saya sebenarnya pernah ingin mempersoalkan lembaga bernama Kastaf ini sebab sejujurnya "tak ada" dlm perencanaan kami di Tim Transisi dulu," tulis pesan Akbar Faizal yang disebut bocor itu lagi.
"Tapi saya nggak memikirkannya. Saya hanya minta kalian di sana berhenti melakukan hal yang tak perlu seperti deklarasi soal Harvard yang akan masuk Istana," tulis itu lagi.
Sebelumnya Kepala Staf Kepresidenan Luhut Binsar Panjaitan memang 'mendeklarasikan' soal lulusan Harvard yang akan berkantor dengan dia. Kata-kata itu dia sebutkan sesaat setelah melantik 4 deputi yang akan mendampingi dirinya.
"Karena kita cari orang-orang baik sekarang ada anak-anak muda dari Harvad yang mau selesai. Enam orang anak Indonesia itu mau masuk di kita. Tapi baru masuk bulan Juli (2015) kali," kata Luhut di Gedung III Sekretariat Negara, Jl Veteran, Jakarta Pusat, Kamis (2/4) lalu.
Sementara itu dalam pesan Akbar Faizal yang bocor juga menyinggung soal peran Luhut di masa kampanye. Akbar menyebut Luhut mengajukan proposal yang mampu menyedot data IT KPU.
"Pak Luhut sendiri setahu saya (dan sesungguhnya saya sangat tahu masalahnya) banyak menghabiskan waktu di kantor pemenangan yang dibentuknya di Bravo 5 Menteng dan berdiskusi or menelepon banyak orang yang saya dengar sebagai "orang LBP" entah di mana saja. Beberapa kali saya rapat dengan tim mereka di mana hadir para pensiunan Jendral yang --mohon maaf-- masih merasa sebagai komandan pasukan dengan berbagai kewenangan. Juga proposal beliau tentang sistem IT beliau yang --cukup memarkir mobil di depan KPU dan seluruh data-data bisa tersedot. Kami di Jl.Subang 3A --itu markas utama pemenangan Jokowi Mas-- terkagum-kagum membayangkan kehebatan teknologi pak LBP sekaligus mengernyitkan dahi tentang proses kerja penyedotan data tadi. Saya yang pernah menjadi wartawan senyum-senyum saja," beber pesan tersebut.
(bpn/van)











































