"Itu tidak bisa digeneralisir, mungkin karena ada faktor ekonomi. Karena tidak bisa hidup di tanah sendiri, mati kelaparan lalu kenapa tidak mati saja di medan perang. Kan ada yang nekat seperti itu," kata Din.
Ia mengatakan hal itu usai acara Konferensi Internasional tentang Terorisme dan ISIS yang diselenggarakan oleh Hendropriyono Strategic Consulting di Kemayoran, Jakarta Pusat, Senin (23/3/2015).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
WNI yang disebutkan berada di Afghanistan itu berdasarkan informasi yang diterima Din. Informasi itu menyebutkan perekrutan WNI untuk berperang melawan Uni Soviet pada tahun 1970-1980an tersebut mencapai 1.000an orang.
"Jangan (mereka) dikejar-kejar lalu meninggal. Sayangnya, penanganan teroris kita banyaknya yang meninggal daripada ditangkap hidup. Belum tentu bersalah tapi sudah meninggal itu bisa 7 keturunannya memendam dendam kesumat," ujar Din.
"Ini yang saya sebut pelestarian terorisme dengan cara Densus 88 main tembak, belum proses hukum. Ini pelanggaran HAM berat dan menimbulkan dendam kesumat ke saudara-saudaranya. Ini yang menyuburkan terorisme," tambahnya.
Oleh karena itu, Din menilai upaya penangkapan terduga teroris di Indonesia yang diwarnai baku tembak akan membuat 'lingkaran' dan terus memunculkan para pelaku terorisme baru. Ia pun yakin penindakan terorisme saat ini tak bisa menghapus kegiatan terorisme di Indonesia.
"Saya ingin menyampaikan, kalau masih cara seperti sekarang ini ditempuh, haqul yakin tidak akan bisa (diselesaikan). Ini ideologi, pikiran, tidak akan bisa kecuali mau jadikan ini sebagai proyek permanen," tutupnya.
(vid/rjo)











































