Wariyem Tasban yang berasal dari Indramayu misalnya. Wanita setengah baya ini merasa dirayu oleh sponsor dengan iming-iming rupiah meskipun sangat sadar dirinya tidak sehat. Dalam beberapa tes kesehatan, Wariyem juga dinyatakan tidak mampu bekerja sebagai pembantu rumah tangga. Namun, sponsor dan agen tetap mendorong dirinya untuk mau dikirim ke Uni Emirat Arab.
"Tenang saja, tidak perlu khawatir. Meskipun kamu sakit-sakitan tidak masalah. Yang penting kamu punya niat kerja dan patuh dengan majikan," ujar Wariyem menirukan ucapan sponsor yang tinggal tidak jauh dari desanya.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Setelah sampai di Abu Dhabi (18/9/2014) masalah besar mulai menghadang Wariyem. Tangannya suka bengkak-bengkak sehingga tidak bisa bekerja maksimal. Bahkan kalau tidak minum obat, ia tidak bisa bangun, alias hanya tergolek di tempat tidur saja.
Melihat kenyataan ini, majikan yang telah mengeluarkan uang untuk mendatangkan Wariyem kisaran Rp 60 juta rupiah merasa tertipu dan tidak puas. Tidak heran kalau Wariyem berkali-kali dikembalikan ke agennya di Abu Dhabi.
"Saya hanya bekerja 10 hari di majikan pertama lalu dikembalikan ke agen. Seminggu di majikan kedua, 4 hari di majikan ketiga dan 20 hari di majikan keempat. Mereka semua tidak puas akibat saya sakit. Karena semua menolak, akhirnya saya kabur ke KBRI dan tidak satu rupiahpun yang saya terima," ujar Wariem sambil menyesali nasibnya.
Nasib yang mirip juga dialami oleh Maisaroh binti Derus asal Karawang. Selain umurnya dimudakan menjadi 9 tahun dari aslinya (40 tahun), sertifikat kerjanya juga dipalsukan oleh oknum di Indonesia. Bayangkan saja, wanita ini hanya sempat duduk di bangku SD kelas satu dan itupun tidak tuntas. Ia tidak bisa baca tulis seratus persen.
Namun Maisaroh menjelang akhir tahun lalu terdampar juga di Uni Emirat Arab setelah menerima 'mahar' senilai dua juta rupiah dari sponsor. Repotnya, ia bekerja pada seorang majikan yang hanya mempekerjakan dirinya sebagai pembantu rumah tangga dengan rumah besar berlantai dua. Kemampuan komunikasinya yang sangat minim membuat dirinya terlunta-lunta.
Maisaroh merasa bahwa majikannya tidak 'baik' karena bersikap kasar. Ia sempat dipukul dan dijedotkan kepalanya di tembok. Bahkan makan pun bisa dibilang sangat minim. Tetapi, diakui juga bahwa banyak instruksi majikan tidak dapat dipahaminya.
"Kalau majikan marah dan ngomel saya hanya diam saja. Lalu saya salat dan berdoa semoga majikan menjadi baik lagi sama saya," ujarnya.
Hanya 16 hari di tempat majikan, Maisaroh tidak tahan lalu kabur ke KBRI. Ia menyatakan menyerah dengan keadaan dan ingin segera pulang ke kampung halaman untuk membesarkan anaknya.
Sementara, Wariyem yang kini juga berada di penampungan KBRI Abu Dhabi terus bermimpi-mimpi pulang ke Indonesia, entah bagaimana caranya. Ia ingin bercocok tanam saja di sawah sebelah desa, melupakan kenangan bekerja di negeri orang.
(ndr/mad)










































