"Ya ini bagian kritik dari masyarakat dan menjadi masukan bagi Polri, kalau ada yang kurang maka akan kita benahi, akan tetapi bukan malah menjadi reposisi Polri di bawah Kemendagri," ujar Brigjen Edi Gatot sebagai perwakilan dari Mabes Polri di Kontras, Jalan Borobudur, Menteng, Jakarta Pusat, Rabu (11/3/2015).
Edi mengatakan penempatan Polri di bawah presiden sudahlah tepat. Pasalnya perlu diingat Indonesia merupakan negara kesatuan bukanlah negara federal seperti Amerika.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Edi dengan bangga menujukan dirinya sebagai salah satu representasi bahwa Polri telah mulai berbenah. Dalam diskusi dia menunjukan bintang di bahunya berasal dari seleksi ketat dan asessment lelang jabatan.
"Kalau dulu mungkin iya, tetapi sekarang sudah tidak salah satunya saya ini, pangkat ini saya dapat setelah seleksi asessment. Tak hanya itu ke depan Polri memiliki program salah satunya pembentukan tim internal korupsi sebagai pencegahan anggota polri yang korupsi dan tahun ini sudah mulai dibahas," tuturnya.
Sementara wakil kordinator Kontras, Chrisdiantoro sendiri melihat pembentukan tim pemberantasan korupsi internal Polri langkah yang tepat. Akan tetapi juga sebagai langkah yang terlambat.
"Karena hal itu tidak menjawab persoalan yang ada, pembentukan internal pemberantas korupsi hanyalah sekedar lip service belaka. Karena keputusan Bareskrim yang terdahulu sebelum Buwas atas transfer uang dalam rekening BG belum terjawab dan tidak ada klarifikasi. Kalaupun ada harus mereka dapat membongkar itu," tuturnya
Menurutnya pembentukan tim internal pemberantas korupsi tersebut. Seakan menujukan kalau Polri justru beri perlawanan dan tidak mau dikontrol oleh publik.
"Ini artinya menunjukan mereka tidak mau dikontrol, padahal ada KPK di luar yang bertugas memberantas korupsi," tutupnya
(edo/ndr)











































