Surya Paloh saat bertemu dengan pengurus dan kader Golkar kepemimpinan Agung di auditorium kantor DPP NasDem, memang berbicara soal kompetisi dalam politik.
"Dibutuhkan jiwa besar, semangat keteledanan pemimpin Golkar. Pemimpin Golkar tidak boleh menyatakan dia paling benar, dia paling hebat dan tidak siap kalah bertanding. Saya bukan selamanya menang, saya bisa menerima kekalahan itu," kata Paloh disambut tepuk tangan pengurus inti Golkar hasil Munas Ancol dan sekitar 20 orang kader Golkar, Rabu (11/3/2015).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Sebetulnya saya belajar dari Golkar, ini saya berikan support. Mudah-mudahan katakan masih ada perbedaan pandangan di tubuh internal segera berakhir. Pemerintah ini dipilih oleh rakyat ketika dalam kompetisi, memang tidak smua kalah dan pasti smua tidak menang kenapa mau masuk kompetisi? Jangan maju berkompetisi ketika tidak siap menang atau kalah," tutur Paloh.
Bagi dia keputusan Menkum HAM Yasonna Laoly mengesahkan kepengurusan Agung sudah tepat. "Pilkada di depan mata, bayangkan bila pemerintah tidak segera mengambil keputusan , bagaimana nasib Partai Golkar?" sambungnya.
Memang usai Menkum HAM menerbitkan surat soal kepengurusan Golkar Munas Ancol, kubu Munas Bali kepengurusan Aburizal Bakrie melakukan perlawanan.
Hari ini Sekjen Partai Golkar kubu Aburizal Bakrie, Idrus Marham melaporkan kubu Agung ke Bareskrim Polri. Kubu Agung diadukan terkait dugaan pidana pemalsuan mandat di Munas Ancol. Bahkan Bareskrim disebutnya akan membentuk tim khusus untuk menangani laporan itu.
Idrus melaporkan dugaan pemalsuan 133 dokumen Partai Golkar yang dijadikan mandat untuk mendukung kubu Agung Laksono di Munas Ancol. Mereka yang menjadi terlapor antara lain Yorrys Raweyai dan Zainuddin Amali.
(fdn/van)











































