Mantan Bupati Belitung Timur itu pun sedikit kilas balik menceritakan alasan di balik tingginya silpa (sisa lebih pada anggaran) yang sangat tinggi pada 2014 lalu. Salah satu penyebab silpa terbesar akibat banyaknya program-program yang tidak terlaksana.
"2014, saya langsung putuskan harus pakai e-budgeting terus ditolak, tidak mau. Masuk lagi anggaran yang sudah saya potong-potong muncul lagi," kata Ahok di Balai Kota, Jl Medan Merdeka Selatan, Jakarta Pusat, Selasa (3/3/2015).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Lalu saya lakukan apa, saya pecat kepala dinasnya (Taufik Yudi Mulyanto). Masukin ke TGUPP, yang permainan paling tinggi di pendidikan," lanjutnya.
"Saya masukin Pak Lasro Marbun. Pak Lasro langsung motong Rp 3,4 triliun yang tidak layak dibelanjakan. Jadi persoalannya apa, makanya kejadian sepanjang sejarah di Pemprov DKI 2014 silpa terbesar karena kita temukan banyak sekali anggaran siluman sebetulnya, tetapi pihak DPRD selalu mengatakan ini kan kalian yang mengetik," tegas Ahok.
Sebelumnya, Lasro yang merupakan mantan Kepala Dinas Pendidikan DKI mengaku sedih melihat kekacauan yang ditimbulkan 'anggaran siluman' di DKI. Kepala Inspektorat DKI itu merasa tertampar.
"Saya sebagai mantan Kadisdik terus terang saja sedih banget ini. Merasa tertampar dan malu juga ini karena di balik keberhasilan kita mengembalikan uang ke kas daerah Rp 3,4 triliun ini kok terjebak pada dana sebesar Rp 5,8 miliar," ujar Lasro di Balai Kota, Jl Medan Merdeka Selatan, Jakarta Pusat, Senin (2/3) lalu.
"Sedih banget ini bisa menciderai apa yang kita lakukan selama 10 bulan. Saya secara pribadi jadi banyak merenungi lagi," lanjutnya.
Dia menyebut tahun lalu pihaknya kecolongan dalam pengadaan perangkat UPS. Ada 49 unit UPS yang didatangkan ke sekolah-sekolah kawasan Jakarta Barat dan Jakarta Selatan.
(aws/aan)











































