"Di SMA 3 Jakarta ini, banyak sekali hal-hal yang di luar dugaan saya ketika masuk ke sini," kata Retno di SMA 3 Jakarta, Jl Setiabudi II, Jakarta Selatan, Rabu (11/2/2015).
Salah satu hal yang ditemui Retno adalah senioritas. Sejumlah siswa yang ditemui Retno mengaku kerap di-SMS senior untuk membelikan makanan, cukup detail karena ada takaran sambal dan bumbu sejenisnya. Selain itu, junior terkadang disuruh oleh senior untuk membelikan minuman.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Hal itu mendorong Retno untuk mengubah kebiasaan senioritas. Ia mengaku berusaha mengubah hal yang kurang baik, seperti hubungan antara sekolah, siswa dan warga sekitar sekolah.
"Katanya anak-anak, pelaku pengeroyokan takut memarkir mobil di luar sekolah karena memang sekolah menerapkan kebijakan mobil siswa harus di luar sekolah. Karena, katanya, mobil mereka sudah difoto warga, tapi saya masih baik hati, mengizinkan mereka kalau takut mobilnya dirusak simpan di sekolah. Masukkan ke dalam, nggak apa-apa," ucap Retno.
"Kita hanya ingin melakukan pembinaan terhadap peserta didik yang bersangkutan, maupun peserta didik yang lain, untuk tidak termotivasi melakukan peniruan perbuatan pidana. Segala tindakan kekerasan apa pun dalihnya tak dibenarkan," tutupnya.
Para siswa yang dijatuhi skorsing beralasan bahwa pemukulan kepada pria berinisial E dilakukan sebagai tindakan membela diri. Para orangtua siswa tidak terima dengan hukuman yang dijatuhkan menjelang UN itu dan mengadu ke KPAI hari Jumat lalu.
(vid/nrl)











































