Zikir Keliling Ubat Ate, Obat Pelipur Lara Korban Tsunami

Zikir Keliling Ubat Ate, Obat Pelipur Lara Korban Tsunami

- detikNews
Selasa, 01 Feb 2005 07:02 WIB
Jakarta - Sekelompok seniman dan budayawan Aceh yang tersisa pascatsunami berinisiatif melakukan zikir keliling ubat ate sebagai obat pelipur lara korban tsunami di Banda Aceh dan Aceh Besar.Mereka bak pedagang obat keliling atau kelompok sandiwara tradisional Aceh bergerak dari satu kamp pengungsi ke kamp pengungsi lainnya. Melalui zikir, doa, shalawat, puisi, musik, lagu, nadham, hikayat, haba peutuah, hiem, para pengungsi diajak untuk menatap kembali masa depan.Para seniman yang bermarkas di Taman Budaya Banda Aceh ini percaya seperti hadimaja/pepatah Aceh lama: "Ubat ate Allah Allah, ubat sosah peyasan beuna" (obat hati berzikir, obat susah menghibur diri)."Itulah yang sangat dibutuhkan mereka setelah semua kebutuhan makanan dankesehatan telah dipenuhi oleh seluruh dunia dari Afghanistan sampai Amerika," sebut Fozan Santa dari Media Network dalam keterangan tertulis kepada detikcom, Selasa (1/2/2005).Zikir keliling itu dilakukan sejak 24 Januari hingga 16 Februari 2005. Sekitar 10-15 seniman tergabung dalam Koordinatoriat Bangkit Aceh Banda Aceh-Aceh Besar, dengan sekjen Kostaman, ditambah sejumlah relawan yang berminat dari Jakarta, Bandung, Tangerang dan Bekasi.Antara lain Ameer Hamzah, Syeh Usman Buket, Presiden Rex Hasbi Burman, Dekna, Ayah Moesa, MY Bombang, D Kemalawati, Fikar W Eda, Din Pelor, dan Apa Kaoy. Rencananya akan melibatkan Sabirin Lamno dan Rafli, dua dari penyanyi Aceh popoler saat ini.Koordinatoriat Bangkit Aceh semula dideklarasikan di Jakarta oleh sejumlah kalangan yang memiliki perhatian dan kepedulian kuat pada bidang kebudayaan secara umum. Antara lain Konsorsium Wartawan Kebudayaan (KWK) Nusantara, Bengkel Teater Rendra, Seniman Aceh Jakarta (Sajak), Kafe Taman Semanggi, Pasar Seni Ancol, Sanggar Matahari, Asosiasi Pematung Indonesia, Galeri Nasional Indonesia, Mata-mata Communication, Federasi Teater Indonesia, Himpunan Pelukis Jakarta, Forum Wartawan Hiburan, Jakarta Comtemporary Painters Association, Mahasiswa Universitas Nasional Jakarta, Komunitas Kebun Nanas, Sun Life Financial Indonesia.Lokasi pertama adalah di kamp pengungsian kompleks TVRI Gue Gajah. Setelah itu para seniman menuju kamp pengungsi Lam Kawe Peukan Biluy, Masjid Sibreh, Blang Bintang, Masjid Kampus Darussalam, Meunasah Bueng Bakjok, Masjid Ulee Kareueng, Gedung Sosial, Gedung DPRD NAD, Lampeunurut, Mata Ie, Masjid Seulimuem, Masjid Jantho, Masjid Labui-Ateuk dan Lanud Blang Bintang."Setiap malam pukul 20.00 WIB kami menggelar tikar dan menata soundsystem, dibantu oleh para pengurus posko pengungsian yang menyebarkan informasi untuk seluruh kawasannya," kata Fozan.Selain itu, Koordinatoriat Bangkit Aceh Banda Aceh-Aceh Besar mulai mendata seluruh kelompok/sanggar seni yang ada di Aceh. Kemudian menginventarisir alat-alat pendukung kesenian seperti panggung, alat musik, kostum, yang terkena musibah gempa dan tsunami, dan mengganti perangkat-perangkat baru untuk sanggar-sanggar tersebut agar dapat aktif kembali seperti sediakala. (sss/)


Berita Terkait