"Itu memang di luar prediksi. Secara kasat mata, (pohon) memang sehat. Hanya saja, kita kan tidak tahu kalau ternyata di bagian dalamnya sudah keropos," kata Iskandar usai membesuk korban pohon tumbang yang masih berada di ruang perawatan RS PMI Bogor, Senin (12/1/2015).
Keberadaan pohon jenis damar tersebut memang tanggung jawab LIPI. LIPI belum memiliki alat atau teknologi khusus untuk mendeteksi kondisi bagian dalam pohon. "Jadi sampai saat ini kita masih melakukan pengawasan secara secara viusal secara kasat mata," kata Iskandar.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Kita akan lebih giat melakukan pengawasan dan membuat zona-zona bahaya pohon rawan tumbang di Kebun Raya," ungkapnya.
Sementara itu, Amas, Kepala Biro Umum Perlengkapan LIPI mengatakan, pihak LIPI baru memiliki alat yang hanya bisa digunakan untuk mendeteksi kadar air/kelembaban sebuah pohon. "Ini produk 10 tahun yang lalu ya. Makanya ini sudah seharusnya diperbaharui. Alat ini juga tidak bisa dioptimalkan karena dapat merusak pohon," terang Amas yang mendampingi Iskandar di RS PMI.
Menurut Amas, ada alat canggih bernama Camera Thermo Imiz, yang bisa digunakan untuk mengetahui kondisi dalam batang pohon. "Jadi dengan alat ini, kita bisa mengetahui kondisi dalam batang pohon. Alat ini memiliki kamera, jadi bisa diketahui dengan cepat, apakah pohon itu keropos atau tidak," kata Amas.
"Cuma alat ini ada di luar negeri, kita belum punya. Harganya pasti mahal," imbuhnya.
Pohon damar tumbang pada Minggu (11/1) kemarin. Empat orang yang berada di dekat pohon, tertimpa dan tewas seketika. Seorang lagi meninggal di rumah sakit.
(try/try)











































