Kekuatan Uang Bisa Singkirkan Calon Ketum Parpol Berkualitas
Senin, 24 Jan 2005 17:26 WIB
Jakarta -
Bagaimana bila pengusaha menjadi ketua umum parpol? Orientasi si pengusaha itu tetap pada faktor kekayaan. Majunya pengusaha sebagai calon ketum parpol juga bisa menyingkirkan calon berkualitas. Pendangan ini disampaikan oleh pengamat politik dari Soegeng Sarjadi Syndicated (SSS) Sukardi Rinakit saat berbincang-bincang dengan detikcom, Senin (24/1/2005). Menurut Sukardi, modal utama untuk terjun ke politik bagi para pengusaha adalah uang, bukan akal. Dan dengan sumber daya uang ini, kata Sukardi, sang pengusaha bisa menggerakkan penggalangan kekuatan. Untuk menuju Pemilu 2009, kekuatan uang juga masih sangat dominan dalam dunia politik di Indonesia. Sukardi tidak sependapat bila modal uang ini selalu memunculkan money politics. "Saya kira ini adalah money in politic. Belum tentu money politics. Prediksi-prediksi politik bisa dikalahkan dengan sumber daya uang ini," kata dia. Namun, kata dia, dengan kekuatan uang ini, si pengusaha dapat menyingkirkan calon ketua umum yang seharusnya berkualitas. Lantas bagaimana bila pengusaha jadi ketua umum parpol? Menurut Sukardi, meski nanti pada akhirnya berujung pada jabatan publik, seperti presiden atau menteri, namun kecenderungannya ketum parpol yang pengusaha itu tetap berorientasi pada kekayaan. "Saya kira kecenderungannya tetap kepada kekayaan. Karena itu, publik tetap harus mencermati. Kalau memang kepemimpinan pengusaha seperti itu, ya lain kali tidak perlu didukung. Maka itu, tren para pengusaha berebut ketum parpol merupakan proses pembelajaran yang baik," ungkapnya. Tren baru saat ini, sejumlah pengusaha ramai-ramai berebut menjadi ketua umum parpol. Setelah Jusuf Kalla merebut ketua umum Golkar,
(asy/)










































