Pembangunan Aceh Harus Merujuk Adat dan Syariat yang Berlaku
Senin, 24 Jan 2005 16:01 WIB
Banda Aceh - Para ulama dan cendekiawan se-Aceh menggelar musyawarah untuk merumuskan pembangunan Aceh ke depan setelah mengalami gempa dan tsunami, Senin (24/1/2005). Para ulama berharap, pembangunan Aceh ke depan tetap dalam kerangka adat dan syariat yang berlaku di Aceh. "Kalau ada yang mau membantu anak-anak usia sekolah silakan. Tapi jangan dibawa keluar Aceh, agar mereka tidak kehilangan identitas. Dan mereka-mereka ini kita upayakan untuk dididik di dayah (pesantren)," kata Ketua Majelis Permusyawaratan Ulama NAD, Dr. Tgk. H. Muslim Ibrahim pada sejumlah wartawan di sela-sela acara Musyawarah Ulama dan Cendekiawan se-Aceh, di Gedung Serba Guna Universitas Syiah Kuala. Saat ini, kata dia, MPU telah mendata hampir 620-an anak usia 7-15 tahun yang sudah menjadi yatim piatu pasca kejadian gempa dan tsunami. Anak-anak ini selanjutnya akan dididik di sejumlah dayah di Aceh. Untuk itu, kata Muslim, MPU telah membentuk yayasan khusus yang menangani anak-anak korban gempa dan tsunami. Muslim juga menyarankan, pola penanganan kamp pengungsian sebaiknya tidak berupa barak-barak. Pasalnya, kata Muslim, hal tersebut akan menempatkan para pengungsi seperti orang yang kurang dihargai. "Sebaiknya, mereka ditempatkan dengan pembentukan kamp yang berpola kampung. Karena jika seperti barak-barak itu, mereka akan malu sekali dan keluarga mereka juga akan malu. Umumnya mereka akan memilih tinggal menumpang dengan keluarga atau mengungsi ke desa-desa yang masih utuh. Jadi, ini tolong diperhatikan," urainya. Para pengungsi yang umumnya berprofesi sebagai nelayan, dikatakan Muslim, dapat dipindahkan ke wilayah pantai lain yang relatif lebih aman. Selanjutnya, menurut ulama asal Krueng Mane ini, tradisi meunasah kembali dihidupkan dalam menangani arus pengungsian. Meunasah atau musalla (langgar) yang acap digunakan orang-orang di Aceh untuk beribadah, berkumpul dan bermusyawarah dihidupkan kembali. "Dengan berkumpulnya para pengungsi di dekat meunasah-meunasah, pengkoordiniran pengungsi akan lebih mudah. Jadi mungkin nanti bisa dibuat semacam meunasah center. Distribusi bantuan dapat disalurkan lewat imam-imam meunasah. Di meunasah juga dapat didirikan trauma center. Jadi membantu orang Aceh itu sedapat mungkin tidak mengeluarkan orang Aceh dari habitatnya," saran Muslim. Dia juga berharap agar penceramah-penceramah dan para ulama yang kini berdatangan ke Aceh tidak membawa aliran-aliran mereka ketika berceramah di masjid-masjid. Pasalnya dalam beberapa kasus, Muslim menuturkan ada beberapa penceramah yang berusaha membawa aliran kelompoknya. "Islam di sini kan Islam yang rahmatan lil alamin. Jadi paham-paham Islam yang radikal kiri atau kanan itu jangan disebarkan pada para pengungsi di masjid-masjid. Karena ada kesan yang tertangkap seperti itu," akunya. Sementara itu, menurut Ketua Umum Persatuan Dayah Insafuddin NAD, Tengku H.Muhammad Daud Zamzami, pendidikan anak-anak Aceh harus menjadi perhatian utama pemerintah. "Kita juga sudah menyebarkan para anggota kita untuk melakukan ceramah-ceramah agama dan membuat pengajian untuk para pengungsi, agar mereka bisa menerima kejadian ini sebagai sebuah cobaan dari Tuhan. Mungkin bisa jadi Aceh akan lebih baik lagi setelah tsunami," ujarnya. Karena, menurut dia, kejadian gempa dan tsunami yang meluluhlantakkan Aceh pada 26 Desember lalu merupakan peringatan dari Tuhan kepada umatnya agar dapat mengubah diri menjadi lebih baik lagi. Dari kalangan cendekiawan, dalam pertemuan yang digelar seperti diskusi panel ini, diwakili DR.A.Humam Hamid,MA dan Hasballah M Saad, Rektor IAIN Ar Raniry, Prof Dr H Rusjdi Ali Muhammad dan beberapa tokoh-tokoh Unsyiah. Menurut Humam, banyak bantuan yang ingin disalurkan di Aceh lewat lembaga-lembaga yang dipercaya. Untuk itu, menurut dia, kampus dan dayah berpotensi untuk dijadikan sebuah lembaga yang dapat dipercaya sebagai penyalur bantuan. Humam juga sepakat untuk memaksimalkan meunasah dan kampung-kampung sebagai tempat relokasi pengungsian. "Karena sebenarnya, ketika para pengungsi ini tinggal bersama keluarganya itu juga merupakan terapi dan penyembuhan pertama bagi mereka. Jadi, jangan memaksa mereka untuk tinggal di kamp pengungsian," katanya. Sayangnya, para ulama kharismatik dari sejumlah dayah seperti Tengku Dahlan atau yang lebih dikenal dengan sebutan Abu Tanoh Abe, Tengku Ibrahim Bardan dari Panton Labu, Abu Tumin dari Bireuen dan sejumlah tokoh-tkoh ulama yang cukup dikenal tidak hadir dalam pertemuan tersebut. "Kita sudah undang hampir 350 ulama, tapi yang hadir hanya 100-an saja. Mungkin karena kendala di lapangan," demikian Muslim. Hasil musyawarah ini selanjutnya akan diberikan kepada pengambil kebijakan tentang penanganan rehabilitasi dan rekonstruksi Aceh ke depan.
(asy/)











































