"Penelitian di Dikti karena ada alokasi pendidikan dan pengabdian dan seterusnya. Kalau dipandang di ristek, dana besar kami akan coba outputnya PTN dan PTS di Indonesia ada di World Rank, masuk 500 besar. Oleh karena itu kita dorong dengan penelitian-penelitian baik harus dipublikasikan. Publikasi ini butuh pendanaan besar, akan juga meningkatkan reputasi perguruan tinggi-perguruan tinggi Indonesia," jelas Nasir.
Hal itu disampaikan Nasir saat berbincang dengan wartawan di kantornya, Gedung BPPT II, Jalan MH Thamrin, Jakarta Pusat, Rabu (29/10/2014). Tantangan penyatuan dan penataan anggaran ini adalah bagaimana menyatukan anggaran dari 2 kementerian agar tidak ada ego sektoral.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Everyday dan everytime dilakukan pemantauan. Ini akhir tahun anggaran, serapannya bagaimana? Apa hambatannya? Ini yang harus kita lakukan. Transparancy, fairness, jangan sampe tidak bermanfaat bagi rakyat. Akan terobosan anggaran-anggaran," imbuh pria yang dipilih menjadi rektor Universitas Diponegoro pada September 2014 lalu ini.
Pembentukan unit kerja di bawah menteri, juga akan dikaji apa perlu dibentuk direktorat jenderal atau cukup deputi saja.
Β
"Kami akan kaji, dua minggu bisa selesai. Sinkronisasi antara dua bagian. Apa sebutannya, kami minta bantuan lembaga Sekretaris Negara.
Kalau berjalan harus punya peta yang baik, kajian ini satu bulan bisa selesai. Harapan saya 31 Desember sudah clear. Kami kerja keras, setiap jam sore untuk rapat koordinasi terus," jelas Nasir.
(nwk/nrl)











































