Data Sistem Komputerisasi Haji Terpadu per Senin (27/10/2014) pukul 18.30 waktu Arab Saudi menunjukkan jumlah jamaah haji yang meninggal di Tanah Suci saat ini 274 orang. Jumlah ini lebih banyak dari tahun lalu yang total jamaah wafat tercatat 266 orang.
Kepala Bidang Kesehatan Panitia Penyenggara Ibadah Haji Indonesia dokter Fidiansyah menuturkan kematian merupakan sesuatu yang tidak bisa dimanipulasi.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Tim kesehatan PPIH sudah mengikhtiarkan upaya penyembuhan jamaah haji yang sakit. "Kalau sudah meninggal, jelas itu sesuatu hal yang tidak bisa dikendalikan," kata dia.
"Dan untuk haji, sampai 2014 indikatornya memang angka kematian dan kita tidak bisa mengubah ini," imbuhnya.
Dalam pelaksanaan haji 2014 bidang kesehatan, indikator dalam target yang ditetapkan adalah kematian jamaah tidak boleh 2 orang pe mil (2/1.000). Tahun 2013 lalu, angka kematian jemaah di bawah indikator, yakni 1,58 per mil (266 orang dengan jumlah jamaah yang diberangkatkan 168.800). Sementara tahun ini, dengan angka jamaah yang diberangkatkan tetap sama, 168.800 orang, kemudian dikalikan 2/1.000, maka batas angka kematian maksimal jamaah adalah 336 orang.
Tahun lalu selain karena efek penurunan kuota, juga disebabkan kesadaran masyarakat akan isu MERS. Saat itu kasus MERS yang menghantui semua wilayah menjadi perhatian berbagai pihak, bahkan WHO ikut memberikan peringatan. Efeknya, banyak jamaah resiko tinggi (risti) yang mengurungkan niat pergi menunaikan ibadah haji.
Saat itu Majelis Ulama Indonesia juga menyatakan suatu penzaliman jika ada orang berisiko tinggi diberangkatkan haji dan harus berhadapan dengan MERS. Akibatnya, saat itu seleksi ketat dilakukan terhadap jemaah yang akan berhaji.
Situasi berbeda terjadi pada tahun 2014 ini, tak ada lagi ketakutan berlebihan terhadap MERS. Ditambah kebijakan Kementerian Agama untuk memberangkatkan jamaah di atas usia 70 tahun dengan pertimbangan masa tunggu yang semakin lama menambah banyaknya jamaah risiko tinggi di Tanah Suci.
"Mereka menjadi prioritas tahun ini, mau tidak mau jemaah berisiko tinggi meningkat sehingga berdampak pada profil kesehatannya dan angka kematian jamaah," paparnya.
Meski demikian, angka kematian jamaah tahun ini masih lebih rendah dibandingkan tahun 2011 dan 2012.
"Jadi kita harus membandingkannya secara komprehensif, tidak bisa hanya 2013. Tetap ini merupakan dampak keberhasilan, angka masih di bawah 2 per mil, dibandingkan 2013 angka ini lebih tinggi karena kelompok risti lebih banyak. Tetapi secara proposional persentase masih di bawah target 2 per mil," pungkasnya.
(van/bil)










































