Micropayments ke Macro Revenue

Kolom

Micropayments ke Macro Revenue

- detikNews
Rabu, 12 Jan 2005 11:04 WIB
Jakarta - Dalam dunia bisnis ada sebuah pemeo yang nyaris selalu diiyakan: bigger is better! Makin besar skala bisnis maka makin bagus mendatangkan duit. Makin mahal harga jual, makin besar laba. Tapi, apakah memang selalu begitu? Simak tulisan Daniel Gross di surat kabar The New York Times edisi 2 Januari 2005. Dalam artikel berjudul "The Penny-Wise Aren't Foolish Anymore", Gross menyodorkan sebuah fakta mencengangkan. Ia menyebutkan adanya sebuah kecenderungan perubahan perilaku konsumen dalam berbelanja dan perusahaan gede untuk mengumpulkan laba dari uang recehan. Istilah kerennya micropayments. Gross mengutip sebuah hasil penelitian Peppercoin dan Ipsos-Insight Marketing Research. Katanya, hingga akhir September 2004 jumlah orang Amerika yang membelanjakan uang 2 dolar atau kurang untuk bertransaksi online melonjak menjadi 14 juta dari semula 4 juta! Gross lantas menunjuk sukses iPod dan iTunes music store memungut sen demi sen dari penggila musik digital di Internet. Pada 16 Desember saja, tercatat 200 juta lagu didownload dari iTunes, dengan harga ketengan 99 sen dolar per lagu. Maka tak heran bila IDC Corporation serta merta meramalkan penjualan musik digital akan melesat, dari 60 juta dolar pada 2003 menjadi sekitar 279 juta dolar pada 2004. Kecenderungan mengumpulkan uang recehan ini rupanya tak hanya terjadi di kancah bisnis. Di dunia perpolitikan micropayments pun merajalela. "Smaller donations were a major component of a new surge of money into the political parties and the campaigns in 2004," ujar Kent Cooper seperti dikutip Gross. Jelasnya, sekitar sepertiga dana kampanye yang diperoleh masing-masing kandidat presiden Amerika (Bush 89 juta dolar dan Kerry 72 juta dolar) berasal dari donatur yang menyumbang kurang dari 200 dolar. O ya, Kent Cooper adalah mantan anggota Federal Election Commission dan co-founder situs web PoliticalMoneyLine.com, yang disebut The New York Times sebagai The granddaddy of all Independent campaign finance Web sites, and perhaps the most comprehensives... Bagaimana di Idonesia? Kecenderungan serupa terjadi pula di sini. Buktinya, tak lama berselang setelah tsunami melumat Nanggroe Aceh Darussalam dan Sumatera Utara tersiar kabar, "Lebih dari Rp 1 Miliar Dana Amal Terkumpul Melalui SMS." (detikcom, Rabu, 5/1). Rupanya orang Indonesia pun keranjingan ber-micropayments. Suryo Hadiyanto, Corporate Communications PT Telkomsel mengatakan, sampai 5 Januari pukul 10:30 WIB, Telkomsel telah menghimpun Rp 496.156.000 melalui SMS "Peduli Aceh". Kalau satu SMS yang dikirim melalui short code 2000 bernilai 2000 rupiah, maka dalam waktu tak sampai seminggu terdapat 248.078 SMS donasi yang dikirimkan pelanggan Telkomsel. Jejak Telkomsel diikuti Indosat. Sampai 5 Januari silam, model donasi potong pulsa yang diselenggarakan operator selular nomor dua terbesar di Tanah Air ini berhasil menghimpun Rp 517.980.000 dari SMS yang dikirim ke short code 5000. Jumlah lebih banyak dikumpulkan XL. Sejak 30 Desember 2004 hingga 5 Januari 2005 XL telah menerima Rp 564.785.000 dana sumbangan untuk korban bencana Aceh yang dikirim melalui SMS ke short code 5000. Tak hanya operator lokal yang menghimpun dana dengan cara serupa. Karenanya, diperkirakan ada puluhan miliar rupiah dana yang dihimpun oleh operator telekomunikasi di seluruh dunia untuk disumbangkan kepada korban bencana tsunami. Kalau hendak berpanjang-panjang boleh jadi masih banyak contoh sukses dari "bisnis" menangguk rejeki dari uang recehan ini. Pantas saja bila Mark Friedman, presiden Peppercoin Marketing Research berteriak lantang, "We live in a world of micropayments!" Dan, boleh jadi patut pula kita amini apa kata Daniel Gross di akhir artikelnya "...if you want to make money in 2005, resolve to think small." (diks/)



Berita Terkait