Buka Global Media Forum, Tifatul Pamerkan Kebebasan Berbicara di Indonesia

Buka Global Media Forum, Tifatul Pamerkan Kebebasan Berbicara di Indonesia

- detikNews
Selasa, 26 Agu 2014 10:06 WIB
Buka Global Media Forum, Tifatul Pamerkan Kebebasan Berbicara di Indonesia
Tifatul di acara GMF (Fajar/ detikcom)
Jakarta -

Menkominfo Tifatul Sembiring membuka Global Media Forum (GMF). Di depan perwakilan Unesco dan praktisi media internasional, Tifatul memaparkan luasnya kebebasan berekspresi di Indonesia.

Tifatul yang mengenakan jas hitam dipadu dasi warna merah, membuka GMF dengan memukul gong yang sudah disiapkan di atas panggung. Politikus PKS ini juga menyampaikan pidato sambutannya.

Dalam pidatonya, Tifatul memaparkan mengenai banyaknya media di Indonesia meliputi media penyiaran, cetak, dan online. Banyaknya media yang beroperasi di tanah air, kata Tifatul, tidak terlepas dari luasnya kebebasan berekspresi di Indonesia.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Tifatul juga memaparkan mengenai hubungan erat antara kebebasan berekspresi di Indonesia dengan proses demokrasi. Kebebasan media, kata Tifatul, ada di tengah-tengah hubungan tersebut.

"Indonesia memiliki lingkungan media yang paling mengagumkan, terutama dalam kaitan media dengan demokrasi," ujar Tifatul yang membacakan teks pidato berbahasa Inggris ini.

Menurut Tifatul, hal tersebut tampak dalam tiga mayor aspek dalam proses komunikasi dalam lingkungan demokrasi. Hal pertama adalah kebebasan untuk berbicara dan kebebasan untuk pers.

"Hal kedua, adalah partisipasi masyarakat. Dan ketiga, adalah pemerintah yang terbuka, transparan dan memberdayakan masyarakat untuk memimpin proses demoksasi secara damai," ujar Tifatul.

Tifatul berbicara di hadapan kurang lebih 300 peserta GMF yang terdiri dari praktisi media, organisasi wartawan, lembaga pelatihan media, aparatur pemerintah badan-badan PBB dan badan organisasi pembangunan internasional. Turut hadir memberikan sambutan dalam acara ini, Hubert Gijzen, Director and Representative Unesco Jakarta Office dan Arief Rachman, Executive Chairman Indonesian National Commision for Unesco.

"Kami bersyukur, di negeri kami, media dan suara dari masyarakat tak pernah dimarjinalkan. Malah faktanya, mereka kini duduk di kursi kemudi dari perkembangan bangsa," kata Tifatul.

GMF bertujuan untuk mencapai suatu kesepakatan akan peranan media dalam mendukung agenda pembangunan PBB pasca 2015. Ada dua sasaran penting yakni menjabarkan peran media, termasuk media sosial dalam membangun budaya perdamaian serta meningkatkan peran serta dan interaksi antara pemuda, kelompok marjinal dengan media.

Dirjen Informasi dan Komunikasi Publik Kemenkominfo, Freddy Tulung menyampaikan, GMF ini juga memiliki manfaat bagi Indonesia. "Dengan kita menjadi tuan rumah, maka para praktisi media dari Indonesia bisa memberikan pandangannya kepada forum internasional. Jadi kita benar-benar terlibat," ujar Freddy.

(fjr/gah)


Anda menyukai artikel ini

Artikel disimpan

Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Belum ada komentar.
Jadilah yang pertama berkomentar di sini