"Benar, kami merekrut tenaga keamanan tambahan dari Yayasan Gema Perak. Hal ini kami lakukan karena pihak keamanan kampus kami sudah tak mampu menghadapi unjuk rasa mahasiswa mengenai pemberlakuan jam malam," ujar Wakil Rektor Bidang Akademi dan Kemahasiswaan, Iskandar Fitri saat jumpa pers di Mapolres Jaksel, Jumat (15/8/2014).
Menurut mereka, peredaran narkoba sudah terjadi sejak tahun 2008 hingga saat ini. Pihak kampus pun juga membenarkan adanya penangkapan narkoba jenis ganja seberat 2 kilogram pada tahun 2008.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Tahun 2008 kami ditemukan narkoba sebanyak 2 kilogram. Namun sehari hari peredaran narkoba ditemukan dalam skala kecil, tapi itu hal biasa," jelas Iskandar.
Dalam unjuk rasa yang bergulir selama beberapa waktu lalu ini, pihak kampus pun akhirnya semakin gerah ketika mengetahui adanya peredaran narkoba dalam skala besar. Hasilnya, ditemukan ganja kering sebanyak 5 kilogram dan sabu sebanyak 5 gram.
"Hal inilah yang menyebabkan kami menyewa tenaga pengamanan tambahan diatas 50 orang," kata Iskandar.
Diketahui jasa keamanan tambahan itu berjumlah 70 orang. Berdasarkan pantauan di lokasi saat penggerebekan pada Kamis (13/8), jasa keamanan itu berperawakan ketimuran dan berbadan tegap.
Ada yang menggunakan pakaian safari dan berpakaian preman. Yang menggunakan pakaian safari terlihat memakai anting di bagian telinganya. Mereka kerap berjaga di sekitar Unit Kegiatan Mahasiswa (UKM) Teater Ganta dan Wall Climbing UKM Himpala, dan di Taman Kotak.
Iskandar mengaku, petugas keamanan di Unas hanya ada sekitar tujuh orang. Menurut dia, mereka kerap menjadi bulan-bulanan, ketika mahasiswa melakukan aksi atau unjuk rasa.
"Satpam (di Unas) tidak mempunyai kualifikasi sisi pengendalian keamanan, maka dari itu, kami siapkan pengamanan tambahanan," tutup Iskandar.
(rni/ndr)











































