"Saya nggak trauma, soalnya mau gimana lagi. Harus cari makan dan uang untuk anak sekolah. Apalagi habis Lebaran," kata Triana, seorang pedagang nasi pecel kepada detikcom yang buka lapak di dalam Monas hari ini.
Padahal, dirinya yang berjualan dengan bakul gendongan ini pernah diangkut truk Satpol PP. Botol susu anaknya saat itu ikut terangkut dan tak boleh diambil oleh personel Satpol PP.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Kerugian yang diderita Triana saat kena garuk Satpol PP saat itu adalah Rp 800 ribu. Meski demikian, sepekan setelah kena razia, Triana berjualan kembali.
Hari ini, menurut pantauan detikcom di Monas, puluhan PKL berdagang di sudut-sudut taman hingga jalan Silang Monas. Nada pasrah dan terpaksa berjualan juga dilontarkan Adi yang berjualan es kelapa dengan gerobak.
"Ya mau gimana lagi, soalnya masalah ekonomi," tutur Adi pasrah.
Padahal pada Sabtu kemarin saat Satpol PP melakukan razia, Adi sedang berjualan di Monas. "Ada, tapi nggak kena," sahutnya saat ditanya ada di mana saat Satpol PP melakukan razia pada Sabtu kemarin.
Perlis, seorang penjual kaos, juga mengaku tak punya pilihan lain selain berjualan di Monas.
"Saya udah dengar-dengar, hari ini mau razia lagi. Tapi ya mau gimana lagi, namanya juga cari uang untuk hidup. Untungnya saya selama 4 bulan jualan di Monas belum pernah kena tangkap," tutur pria berusia 20-an akhir ini.
Sabtu kemarin, saat Satpol PP menggelar razia di Monas, Perlis tidak berjualan. Hal ini lantaran dia mendapatkan kabar dari temannya bila ada razia di Monas.
"Saya kemarin nggak kena razia, soalnya belum datang jualan. Lagian kemarin saya juga dapat info dari teman, kalau ada razia makanya saya nggak datang," ungkap dia.
(nwk/try)











































