Berseragam kotak-kotak, Indro datang bersama rombongan keluarga. Ia langsung masuk ke TPS untuk mendaftarkan diri kepada panitia. Tak butuh waktu lama, hanya sekitar 5 menit, Indro keluar dari TPS dan memperlihatkan tinta di kedua jarinya.
"Dari saya punya hak pilih sampai kemaren itu saya golput. Bukan tak datang ke TPS. Saya datang tapi nggak memilih salah satu calon. Nah baru sekarang saya baru milih satu calon," ungkapnya dengan nada serius kepada wartawan, Rabu (9/7/2014)
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Demi anak cucu, saya tetapkan pilihan pada hari ini. Kalian bisa tebaklah, nggak usah saya sebutin," kata Indro.
Pilihan Indro adalah orang yang lahir dari budaya tanah air Indonesia. Seperti mantan Presiden Soekarno, dengan satu prinsip mampu menyatakan keberagaman Indonesia dalan sebuah kemerdekaan.
"Kemudian adalah yang bicara soal gotong royong untuk bangsa, dan itu cuma dilakukan satu calon," ujarnya.
Ia memastikan tidak akan memilih pihak yang terjerat banyak kasus hukum. Seperti korupsi yang sudah terbukti menjerat salah satu pihak dalam kubu calon presiden. Di samping itu juga pihak yang mempermainkan hukum di Indonesia.
"Dalam satu minggu ada dua orang yang nubruk. Satu masuk penjara 4 tahun, satu bebas. Kemudian tertangkap korupsi secara inkracht. Siapa yang mau kita harapin dengan komposisi seperti itu," jelasnya.
(mkl/mad)











































