LPP RRI bekerjasama dengan detikcom menggelar quick count dan exit poll Pilpres 2014. Untuk menyelenggarakan program ini, RRI merekrut 2.000 orang relawan dari seluruh Indonesia. Wajar saja akurasi quick count RRI tak diragukan lagi.
"Untuk menyelenggarakan quick count ini, RRI mengerahkan 2.000 relawan dari seluruh Indonesia, 60% diantaranya adalah pegawai RRI, angkasawan-angkasawan RRI, tetapi 40% ini adalah para pemerhati RRI, terutama pelajar dan mahasiswa yang memang mereka itu pendengar setia RRI atau pengisi siaran RRI sehingga keseluruhan relawan itu orang yang betul-betul dapat melaporkan hasil pemilu dengan bertanggungjawab," kata Direktur Utama LPP RRI Rosarita Niken Widiastuti kepada detikcom di kantornya, Jl Medan Merdeka Barat, Jakarta, Selasa (8/7/2014).
Sebelum direkrut, para relawan ini diberi pengarahan mengenai tugas dan tanggung jawabnya. Untuk menjamin bahwa data yang dimasukkan oleh relawan akurat, mereka harus terlebih dahulu menandatangani pakta integritas.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Ia menjelaskan bahwa para relawan harus memotret hasil berita acara yang telah ditandatangani oleh petugas TPS pada saat penghitungan suara sementara di TPS amatan mereka, kemudian fotonya dikirim melalui IT/android ke pusat data, lalu baru mereka bisa mengirimkan data-data itu ke pusat data. Bila SOP tersebut dilanggar, maka data tidak bisa masuk ke pusat data.
Program Penunjang RRI di Pilpres 2014
Dalam Pilpres 2014 ini, RRI tak hanya melaksanakan quick count. RRi juga memiliki program yang mengajak generasi muda melalui program “Pemilih Cerdas, Pemilu Berkualitas” dengan bekerjasama bersama perguruan tinggi. Dalam acara tersebut, ada lomba yel-yel Pemilu, lomba karikatur money politic, stand up comedy, sampai penampilan band indie.
RRI juga mengadakan sosialisasi yang bekerja sama dengan KPU, KPI, Pemda, kepolisian, dan TNI. Cara sosialisasi dengan gaya anak muda menarik banyak peserta saat dilangsungkan di Yogyakarta, Makassar, Jayapura, dan kota lainnya.
"Jadi RRI sebagai lembaga penyiaran public, bukan memicu konflik, tapi bagaimana memberikan kesejukan melalui tokoh-tokoh agama, tokoh-tokoh masyarakat, supaya perbedaan itu ada, tetapi bukan menjadi masalah terus menjadi konflik," ucap Niken.
(imk/vid)











































