2 Siswa Tewas, Ini Penjelasan Kepsek SMAN 3 di KPAI

2 Siswa Tewas, Ini Penjelasan Kepsek SMAN 3 di KPAI

- detikNews
Selasa, 08 Jul 2014 16:41 WIB
2 Siswa Tewas, Ini Penjelasan Kepsek SMAN 3 di KPAI
Jakarta - Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI) memanggil perwakilan SMAN 3 terkait kasus tewasnya dua siswa di acara ekskul pecinta alam di Tangkuban Parahu, Jabar. Apa penjelasan mereka?

Kepala Sekolah Ni Ketut Diah Chaerani bersama dua rekannya datang ke kantor KPAI, Jakpus, sejak pukul 13.30 WIB. Mereka diterima oleh Komisioner bidang Pendidikan KPAI Susanto. Pertemuan berlangsung selama dua jam.

Usai pertemuan, baik KPAI dan perwakilan SMAN 3 menggelar jumpa pers. Tak banyak komentar yang disampaikan oleh pihak SMAN 3 selain mengikuti proses hukum.

"Semua dalam proses hukum. Kita serahkan semuanya pada kepolisian," kata Kepala Sekolah Ni Ketut Diah Chaerani dalam konferensi pers di kantor KPAI, Jakarta Pusat, Selasa (8/7/2014).

Diah hanya menyampaikan terima kasih pada KPAI yang sudah memberikan perhatian khusus terhadap kasus ini. "Kami masih melakukan telaah-telaah untuk mengungkap kasus ini," katanya.

Ketika ditanyai soal nasib ekstrakurikuler ini, Diah menyatakan rapat kerja sudah memutuskan untuk memberhentikan kegiatannya. Sementara siswa yang kini menjadi tersangka baru akan diputuskan nasibnya setelah pemeriksaan lebih lanjut.

"Kalau jadi penyebab, tentunya ada sanksi. Tapi kami masih menunggu proses," katanya singkat.

Setelah konferensi pers, pihak SMAN 3 langsung meninggalkan tempat tanpa memberikan keterangan tambahan.

Dalam kesempatan itu, komisioner KPAI Susanto menyoroti proses penanganan terhadap 5 tersangka kasus penganiayaan. Dia melihat proses penahanannya tidak sesuai.

"Ada satu hal yang belum sesuai dengan prinsip perlindungan anak. Yaitu anak yang masih sangat belia dicampur dengan rutan orang dewasa," kata Susanto.

Menurutnya anak-anak dibawah umur seperti para tersangka seharusnya dipisahkan dari rutan orang dewasa karena tidak baik untuk keadaan psikologisnya.

"Anak juga menangis di rutan karena banyak preman katanya, pembunuh dan lain-lain. Mereka takut," kata Susanto, menambahkan.
#apakah dikeluarkan?
Kalau jadi penyebab, tentunya ada sanksi. Tapi kami masih menunggu proses.

Susanto:
Besok kamis akan dipanggil pembina ekstrakurikuler karena beliau mengetahui detail kegiatannya mulai dari berangkat sampai berakhir. Jamnya akan kami infokan lagi.

(mad/mad)


Berita Terkait