Timses Prabowo Sebut Tulisan Jurnalis Asing Soal Gus Dur Black Campaign

Timses Prabowo Sebut Tulisan Jurnalis Asing Soal Gus Dur Black Campaign

- detikNews
Sabtu, 28 Jun 2014 17:03 WIB
Timses Prabowo Sebut Tulisan Jurnalis Asing Soal Gus Dur Black Campaign
Jakarta - Tim Kampanye Nasional Prabowo-Hatta menyebut tulisan Allan Nairn wartawan investigasi asal Amerika sebagai black campaign. Pihaknya juga membantah jika Prabowo pernah melecehkan Abdurrachman Wahid atau biasa dipanggil Gus Dur.

"Penyataan Allan Nairn adalah bagian dari black campaign yang terkordinasi oleh sekelompok jurnalis asing, karena tidak menghendaki Prabowo menjadi presiden," ujar Direktur Komunikasi dan Media Timkamnas Prabowo-Hatta, Budi Purnomo dalam keterangan tertulis kepada detikcom di Rumah Polonia, Jakarta Timur, Sabtu (28/6/2014).

Dikatakan Budi, Allan Nairn merupakan jurnalis investigas asal Amerika yang selalu mengkritik TNI. Bahkan dalam perjalanan melakukan Investigasi, Allan tercatat tujuh kali masuk indonesia dengan cara ilegal

"Tahun 2010, TNI pernah menyatakan akan menangkap Allan jika ia ketahuan kembali ke Indonesia. Dalam tulisan Allan dijelaskan secara eksplisit yang menyudutkan Prabowo sehingga tidak jadi presiden kita. Salah satunya berupa fitnah pernyataan Prabowo terhadap Gus Dur," imbuhnya.

Ia mengatakan Prabowo sangat menghormati Gus Dur. Bahkan tidak ada sepatah kata dalam konteks apapun untuk merendahkan mantan presiden Indonesia ke 4.

"Prabowo sangat menghormati Gus Dur, dan tidak pernah sekalipun dalam hidupnya, dalam konteks apapun, mengucapkan kata-kata yang merendahkan martabat beliau" tegas Budi.

Tudingan kepada Prabowo tak hanya ditulis oleh Allan, Budi menyebutkan jurnalis majalah TIME juga menulis hal jelek tentang Prabowo jika terpilih jadi presiden. Tulisan itu dimuat pada tanggal 25 Juni 2014 yang berjudul "One of the Worst Pieces of Political Campaigning Ever".

"Kita melihat apa yang dilakukan jurnalis asing ini adalah upaya menjatuhkan citra Prabowo, karena dunia barat tidak ingin Indonesia dipimpin oleh pemimpin yang kuat, bersih dan berani. Mereka lebih senang Indonesia tetap tertinggal," ungkapnya.

(edo/rvk)


Anda menyukai artikel ini

Artikel disimpan

Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Belum ada komentar.
Jadilah yang pertama berkomentar di sini