Memutus Generasi Pemuas Syahwat di Saritem Lewat Pesantren

Lokalisasi Setelah Ditutup

Memutus Generasi Pemuas Syahwat di Saritem Lewat Pesantren

- detikNews
Jumat, 20 Jun 2014 16:42 WIB
Memutus Generasi Pemuas Syahwat di Saritem Lewat Pesantren
Bandung - Berbicara soal Saritem, ujung-ujungnya tetap seputaran pandangan stigma. Maklum, lokasi tersebut terlanjur tersohor sebagai area bisnis seks penyedia sekumpulan wanita pemuas nafsu biologis pria hidung belang. Wajar juga masyarakat menilai Saritem arena maksiat. Terlepas ragam pendapat, rupanya terpancar kisah positif di balik aktivitas prostitusi terbesar di Kota Bandung ini.

Saritem hingga kini terbukti masih menggeliat. Meski denyut aktivitasnya tak sekencang dahulu atau sebelum 'ditutup' Pemkot Bandung pada 2007. Sebagian warga Saritem 'terpaksa' menggeluti praktik transaksi seks. Ada menjadi muncikari, calo, dan pemilik bordil.

"Kalau wanita pekerja seks komersial di Saritem ini merupakan warga pendatang," ucap salah tokoh masyarakat yang wanti-wanti namanya tidak dimunculkan saat berbincang bersama detikcom di kawasan Saritem, Jumat (20/6/2014).

Pria ini menyebut, lika liku warga Saritem dan wanita PSK bukannya ingin sengaja menodai nama baik Bandung di mata masyarakat Indonesia. "Alasannya klasik. Urusan perut. Atau dalih lainnya faktor kebutuhan ekonomi," ucapnya.

Tetapi tidak seluruh cerita buruk penghuni Saritem melekat abadi. "Banyak kok calo, germo, dan PSK di Saritem yang tobat," tuturnya.

"Nah, PSK insyaf itu alasannya ingin menata perjalanan hidup baru ke arah lebih baik. Kebanyakannya mereka keluar dari Saritem lantaran menikah. Ada balik ke kampung halamannya," ujar dia menambahkan.

Dia menuturkan, kehadiran pondok pesantren At Taubah di kawasan Saritem ampuh mengetuk kalbu orang-orang terjerumus dengan bisnis esek-esek. At Taubah yang bercokol sejak 2000 ini terbukti melecut 'sinyal' positif.

"Sudah enggak terhitung PSK yang tobat. PSK datang kepada pengurus pesantren untuk curhat. Setelah menerima siraman rohani, mereka menyatakan tidak mau lagi meneruskan pekerjaannya," tuturnya.

At Taubah, kata dia, memiliki misi memutus mata rantai agar generasi cilik dan remaja asli warga Saritem tidak mengikuti jejak-jejak pendahulunya. "Anak SD hingga SMA warga Saritem digembleng belajar agama dan mengaji. Ada juga yang mahasiswa. Ya jangan sampai generasi mendatang ini ikut-ikutan terjerumus," ujarnya.

"Manfaatnya benar-benar nyata. Mereka yang dulu pernah digembleng di At Taubah, setelah dewasa memilih mencari pekerjaan di luar Saritem," katanya.

Lebih lanjut dia menuturkan, lambat laun para mucikari, pemilik bordil, dan calo, memilih 'memindahkan' anak serta keluarganya mejauh dari Saritem. "Ada yang sengaja beli rumah di luar Saritem. Hal itu sangat bagus. Artinya, mereka punya niat meninggalkan pekerjaan di tempat prostitusi Saritem," ujar dia.


(bbn/mad)



Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 


Hide Ads