"Semua gagasan ini harusnya bisa diimplementasikan, oleh pasangan nomor satu atau pun dua yang menang," tutur Ivan Riansa, Ketua Badan Eksekutif Mahasiswa Univeristas Indonesia (BEM UI) ketika diwawancarai pada Rabu (17/6/2014) di auditorium Fakultas Hukum UI, Depok, Jawa Barat.
Dialog ini merupakan salah satu serangkaian acara yang akan digelar jelang pemilihan presiden 9 Juli nanti oleh gabungan BEM se-UI. "Hari ini kita ingin menguji gagasan kita, sudah realistis atau belum," imbuh Ivan.
Setelah kontrak politik tersebut disetujui oleh tim sukses kedua kubu, maka akan diajukan kepada calon presiden dan wakil presiden. "Agenda selanjutnya kita akan undang capres dan cawapres tersebut ke kampus untuj menandatangani kontrak politik. Rencananya minggu depan," terang Ivan.
Pada dialog terbuka yang diselenggarakan oleh BEM 13 fakultas dan satu program studi ini, mahasiswa mengajukan delapan kontrak politik di enam bidang isu, yakni pendidikan, energi, riset, kesehatan, korupsi, dan HAM.
"Ini berdasar bidang keilmuan kita dan sudah disepakati teman-teman BEM se-UI. Bukan berarti mengesampingkan isu lain seperti pertanian, tapi ini disesuaikan dengan kompetensi kita," papar Ivan.
Berdasarkan rilis yang diterima, kontrak politik di bidang pendidikan akan memfokuskan pada penyediaan infrastruktur pendidikan di daerah terpencil. Di bidang energi, mahasiswa UI mendesak realisasi pembangunan proyek PLTU. Di bidang riset, mahasiswa meminta kenaikan anggaran riset. Mereka juga meminta tim sukses capres dan cawapres untuk menyetujui penyelesaian kasus pelanggaran HAM.
Hadir untuk menanggapi kontrak politik yang diajukan oleh mahasiswa adalah perwakilan tim Prabowo-Hatta, yaitu Marwah Daud, Ardaya Wardika, Zulhendri Hasan, Amir Sambodo, Kivlan Zein. Sedangkan tim Jokowi-JK diwakili oleh Teguh Samudra, Taufik Basari, Firman, Jaya Daeli, Adian Napitupulu, dan Wijayanto Samirin.
(trq/trq)










































