"Tidak hanya sekedar jadi polisi lalu lintas. Nyuruh silakan lewat, silakan masuk. Pertajam dong. Kalau jawaban tidak relevan, dia harus kejar dong. Kalau dia tanya A, tapi jawabnya C dikejar dong. Dia sebenarnya paham nggak?," ujar Direktur Advokasi dan Hukum Tim Pemenangan Prabowo-Hatta, Ahmad Yani di Rumah Polonia, Jakarta Timur, Selasa (17/6/2014).
Dia menyindir moderator putaran dua, Ahmad Erani Yustika yang dianggap kurang memperdalam persoalan dengan beberapa pertanyaan yang dilontarkan kepada Prabowo Subianto dan Joko Widodo. Padahal, dengan gelar profesor di bidang ekonomi, mestinya Erani bisa memaksimalkan perannya.
"Dia tidak bisa menggunakan kemampuan sebagai profesor ekonomi yang lebih jauh kepada Jokowi atau Pak Prabowo. Ini penting karena kita ini membutuhkan pemimpin yang jenius bukan pemimpin pesanan. Bukan pemimpin yang nyontek pikiran," ujar Anggota Komisi III DPR itu.
Dia pun berharap saat debat capres putaran tiga nanti, Minggu (22/6/2014), moderator bisa aktif dan membuat suasana debat lebih hidup. Adapun tema dalam debat capres putaran tiga adalah 'Politik Internal dan Ketahanan Nasional'.
"Kita berharap dia harus kuasai problem, tema, terus apa yang dia mau tanya, jawaban apa yang dibutuhkan. Jangan sekedar jadi polisi lalu lintas. Cuma menyetop lampu merah stop dan lampu hijau silakan jalan," sebutnya.
(hat/kha)











































