Militer AS Kembali Lakukan Kekejaman
Rabu, 22 Des 2004 05:55 WIB
Jakarta - Tudingan personil militer Amerika Serikat (AS) melakukan kekejaman atas tawanan Irak, kembali muncul. Penganiayaan masih terjadi setelah skandal Abu Ghraib.Sebuah organisasi Amerika, American Civil Liberties Union (ACLU), mengeluarkan dokumen-dokumen yang menunjukkan terjadinya penganiayan. Dokumen-dokumen ini dikeluarkan dalam rangka tuntutan hukum yang diajukan organisasi itu terhadap pemerintah Amerika. ACLU seperti yang dikutip BBC, Rabu (22/12/2004) berusaha membuktikan apakah pemerintah Amerika melakukan penganiayaan terhadap tawanan-tawanannya.Sebagian peristiwa ini terjadi setelah skandal penjara Abu Ghraib. Sebagian dokumen lain menyebutkan adanya penganiayaan serius di penjara militer Amerika yang terletak di Teluk Guantanamo, Kuba.Direktur Eksekutif ACLU Anthony Romero mengatakan dokumen-dokumen itu menunjukkan bahwa para pejabat Amerika tidak bisa lagi menghindari sorotan publik dan menyalahkan prajurit.Minggu lalu, dokumen-dokumen baru mengungkapkan terjadinya penganiayaan oleh marinir Amerika di Irak. Sampai sekarang 13 marinir sudah divonis bersalah, dan sebagian di antara mereka sudah masuk penjara.Penjelasan FBISalah satu memorandum yang dikeluarkan berisi penjelasan seorang agen FBI yang melihat adanya "penyiksaan fisik berat" di Irak. Kesaksian itu tertanggal 24 Juni, dua bulan setelah terungkapnya penganiayaan di penjara Abu Ghraib. Laporan itu diberi tanda "segera" dan dikirim kepada Direktur FBI, Robert Mueller.Dalam laporan tersebut, sang agen mengatakan ia melihat tawanan yang dipukuli, dicekik, dan telinganya dimasuki rokok yang sedang menyala.Dokumen-dokumen tentang Guantanamo menyebutkan bahwa para tawanan di borgol di lantai dalam posisi seperti janin, selama lebih dari 24 jam. Mereka juga tidak diberi makanan atau air minum, dan dibiarkan buang air di tempat.Dalam memo yang mencatat keadaan selama dua tahun sampai Agustus lalu, agen-agen FBI mengatakan mereka melihat tawanan ditakut-takuti oleh anjing penjaga. Ini bertentangan dengan pernyataan pejabat-pejabat departemen pertahanan Amerika.Menurut keterangan FBI, seorang tawanan dibungkus dengan bendera Israel, dan musik keras diperdengarkan, agar dia mengaku dalam pemeriksaan. Selain itu ada juga tuduhan bahwa personil militer yang melakukan interogasi, menyamar sebagai agen FBI, agar di kemudian hari tentara tidak disalahkan.Pentagon belum berkomentar atas tuduhan terakhir ini, tetapi dalam kasus-kasus sebelumnya Pentagon mengatakan mereka tidak mentolerir penganiayaan. Pentagon menambahkan bahwa sebagian tuduhan yang berada dalam dokumen-dokumen tersebut, sedang diselidiki.
(mar/)











































