SD Mojorejo I, 'Kandang Lalat' di Pinggir Pembuangan Sampah
Senin, 20 Des 2004 15:46 WIB
Solo -
Siapa pun akan risih jika dikerumuni lalat. Entah karena risih dengan wujud, suara maupun karena kekotorannya. Namun bagi para murid di SD Mojorejo, Bendosari, Sukoharjo, 'belajar' bersama ribuan lalat harus dilakoni tiap harinya. Hal itu karena letak sekolahannya sangat berdekatan dengan tempat pembuangan akhir (TPA) sampah.Sejak sekitar sepuluh tahun lalu, Pemerintah Kabupaten Sukoharjo memfungsikan tanah kas Desa Mojorejo seluas dua hektar untuk TPA. Setiap harinya, paling sedikit tigabelas truk sampah dikirim ke lokasi tersebut. Sampah datang dari sejumlah tempat, terutama dari kota Sukoharjo.Padahal di dekat tempat tersebut, jauh sebelumnya -- tepatnya sejak 1972 -- telah berdiri SD Mojorejo I. Karena lokasinya yang sangat berdekatan maka dampak langsung yang dialami para murid dan guru di SD Mojorejo I adalah gangguan polusi adara dan hewan-hewan yang suka berada di lokasi sampah, terutama lalat.Karenanya, 'bumbu' dari proses belajar mengajar mereka selama ini cukup membahayakan kesehatan. Di musim kemarau selain harus menghirup bau tidak sedap dari sampah, mereka juga harus menghirup asap dari pembakaran sampah. Sedangkan di musim penghujan, bau busuk sampah itu semakin menyengat dan semakin banyak pula lalat yang mengerumuni.Tak ayal lagi, ribuan lalat itu juga ikut 'bersekolah' dengan masuk ke halaman, maupun berbagai ruangan yang tersedia. Tidak jarang para murid maupun guru mengaku merasa mual akibat menghirup bau busuk dan jijik ketika melihat atau dihinggapi lalat.Pihak sekolahan tidak dapat berbuat banyak menghadapi hal tersebut. Paling banter yang dapat dilakukan hanyalah melakukan penyemprotan. Kepala SD Mojorejo I, Jamhari, mengatakan bahwa memang ada perhatian Pemkab Sukoharjo terhadap persoalan yang dihadapi sekolahannya.Perhatian yang dimaksudkannya adalah adanya bantuan berupa obat semprot serangga. Itu pun baru dilakukan dalam setahun terakhir. Jumlah yang dikirimkan juga sangat tidak memadai, lagi pula datangnya kiriman juga tidak rutin. "Sedangkan alat penyemprotnya kami pinjam ke warga sekitar," ujar Jamhari saat ditemui di sekolahannya, Senin (20/12/2004).Pihak Pemerintahan Desa Mojorejo juga mengaku tidak bisa berbuat banyak untuk mengatasi kondisi tersebut mengingat pengelolaan TPA berada di tangan Pemkab. Kepala Desa Mojorejo, Sadiran, mengkhawatirkan SD itu akan semakin kehilangan murid jika tidak segera ada pembenahan. "Kami khawatir akan semakin banyak orangtua enggan menyekolahkan anaknya ke SD itu," kata Sadiran.Wakil Bupati Sukoharjo, M Toha, saat dikonfirmasi mengaku sudah mengetahui kondisi tersebut. Menurutnya, saat ini pihaknya masih akan berupaya untuk dapat mengatasinya. "Kami masih terus melakukannya dengan penyemprotan, namun kalau tetap tidak berhasil nantinya akan kami tempuh cara lain. Yang pasti pihak-pihak terkait sudah kami koordinasikan untuk persoalan itu," ujar Toha.Pihak terkait itu adalah Diknas, Dinkes Kabupaten Sukoharjo dan DPU sebagai pengela lahan TPA. Tidak tertutup kemungkinan, kata Toha, lokasi SD Mojorejo I akan dipindahkan. "Namun sejauh ini belum sampai pada keputusan itu. Kami juga berharap tidak terjadi kesalahpahaman pada warga, karena pengelolaan dan melokalisir sampah di satu tempat juga sangat penting dilakukan," lanjutnya.
(nrl/)










































