Adalah Michael Victor Sianipar yang bertarung di daerah pemilihan 1 Jakarta Pusat dan Yudha Permana yang mencalonkan diri di dapil 10 Jakarta Barat. Meski mendapat nomor buncit, keduanya diyakini Ahok tetap optimis menang.
"Enggak masalah, kan suara terbanyak yang menentukan. Saya di DPR RI dulu juga nomor terakhir saya," kata Ahok saat berbincang di rumahnya di komp Pantai Mutiara, Pluit, Jakarta Utara, Rabu (9/4/2014).
Ahok berharap keduanya bisa menang. Ia ingin mereka diberi kesempatan duduk sebagai wakil rakyat di Jakarta.
"Ya harapan saya sih mereka (Yudha dan Michael) terpilih ya, dikasih kesempatan. Karena kan mereka orang-orang yang tadinya enggak mau di politik," ujarnya.
Ia lalu menceritakan bila Yudha sebelum ini sudah bekerja di Amerika Serikat. Tadinya ia tak tertarik dengan dunia politik. Namun, karena magang sebagai staf Ahok di Balai Kota, perlahan ia mulai tertarik.
Begitu pun dengan Michael yang sudah mendapatkan beasiswa ke Korea Selatan untuk belajar ilmu politik. Namun, ia memberi wejangan bahwa kondisi Indonesia yang tak berkembang sedikit banyak dipengaruhi oleh orang cerdas namun enggan berkarier di negerinya sendiri. Ia menyarankan agar keduanya berkiprah di dunia politik.
"Saya bilang kan sama mereka, anda boleh jadi aktivis yang idealis, tapi belum teruji. Nanti kan ketika anda sudah berkuasa, baru kita tahu kan kualitas anda. Kalau orang belum pernah berkuasa kan ngomongnya gampang karena belum teruji," ucap politisi yang terkenal ngomong blak-blakan ini.
"Kalau sudah masuk di sistem, anda tahan tidak untuk tidak terima suap? Anda bisa adil nggak mengambil keputusan? Terus dia berani nggak ngelawan semua yang nggak benar begitu? Nah itu makanya mereka harus dikasih kesempatan untuk diuji," ucapnya.
Di luar itu, Ahok memiliki misi sendiri mengapa ia berharap kedua stafnya bisa lolos pileg kali ini. Tak lain dan tak bukan, ingin membuktikan pada masyarakat bahwa seorang caleg bisa menang tanpa menghamburkan uang untuk kampanye.
"Biar jadi model bahwa kampanye nggak harus keluar uang banyak. Tinggal sering bertemu masyarakat, mengerti masalah masyarakat seperti apa dan bagi-bagi kartu nama untuk jadi tempat curhat warga," tutur suami Veronica Tan ini.
Terakhir, ia berharap semakin banyak anak muda di Indonesia yang berpotensi untuk maju mencalonkan diri. Ia bahkan sudah mengancang-ancang untuk mendorong 2 staf pribadinya yang masih muda untuk pemilu 2019.
"Sekarang belum karena mereka masih muda. Tapi siapa tahu 2019 mereka tertarik. Harapan saya sih begitu, banyak orang yang tidak suka di politik, terus terpanggil buat nyalon jadi legislatif. Itu sesuatu yang bagus untuk memperbaiki negara kita," tandasnya.
(bil/mad)











































