"PDIP diprediksi menang tapi tidak mungkin 30-40% seperti dulu sehingga perlu koalisi. Salah satunya bisa dengan Golkar karena Golkar maunya selalu dengan pemerintah. Partai Islam seperti PKS, PAN, PPP, PPP itu kekuatannya besar. Mereka punya potensi tersendiri juga," kata Didik di Wisma Kodel, Jl. HR Rasuna Said, Jaksel, Selasa (18/3/2014).
Hal tersebut ia sampaikan usai diskusi "Nasib Jakarta Pasca Jokowi" yang diselenggarakan PDB. Politisi senior AM Fatwa juga hadir dalam diskusi ini.
Menurut Didik, pintu koalisi PDIP akan sulit berkoalisi dengan Partai Demokrat. Penyebabnya adalah hubungan antara kedua ketua umum yang belum cair. Hal ini pun juga pernah diakui oleh Ketum PD Susilo Bambang Yudhoyono.
"PDIP dengan Partai Demokrat agak sulit karena hubungan Mega dan SBY masih agak berat ya," kata politisi PAN ini.
Terkait pasangan dari Joko Widodo yang sudah ditetapkan sebagai capres dari PDIP, Didik berpendapat bahwa PDIP akan mencari figur yang bisa menutupi kelemahan Jokowi. Namun ia tidak menyarankan PDIP mengusung cawapres dari internal partai.
"Dari beberapa survei PDB terakhir, Jokowi dengan Puan kurang bagus. Dengan Megawati juga tidak tinggi," ujarnya.
(van/van)











































