Polisi dan Satpol PP akan Razia Gepeng di JPO yang Rawan Aksi Kriminal

Polisi dan Satpol PP akan Razia Gepeng di JPO yang Rawan Aksi Kriminal

- detikNews
Selasa, 04 Mar 2014 15:46 WIB
Jakarta - Jembatan penyeberangan orang (JPO) kerap dijadikan tempat berjualan PKL, dan tempat gelandangan atau pengemis meminta-minta. Beberapa JPO yang ada di Jakarta juga diketahui rawan aksi kriminal.

Mengantisipasi hal ini, pihak Kepolisian Daerah Metro Jaya bersama Satpol PP DKI Jakarta untuk melakukan razia dan penertiban di JPO.

"Untuk JPO ini, kita akan lakukan razia bersama Satpol PP. Kita lakukan razia secara berkala dan insidentil untuk mengantisipasi adanya kerawanan di JPO," ujar Kabid Humas Polda Metro Jaya Kombes Pol Rikwanto, kepada wartawan di Mapolda Metro Jaya, Jakarta, Selasa (4/3/2014).

Langkah ini, kata Rikwanto, dilakukan agar JPO kembali ke fungsi semula, yaitu sebagai sarana untuk menyeberang jalan bagi pejalan kaki. Diakui Rikwanto, JPO tidak steril dari pedagang dan pengemis sehingga membuat pejalan kaki tidak nyaman.

"Kami meminta masyarakat laporkan kalau ada JPO yang rawan," imbuh Rikwanto.

Lalu, di mana saja JPO di Jakarta yang rawan tindakan kriminal? "Banyak," jawab Rikwanto tegas.

Tindak kejahatan yang terjadi di JPO terakhir dilaporkan pada 28 Februari 2014 lalu. Seorang karyawati swasta kehilangan uang sekaligus menjadi korban pelecehan seksual saat menyeberang di JPO depan Gedung DPR/MPR, Senayan, Jakarta.

Ketika korban berjalan kaki, pelaku yang tengah duduk-duduk di atas JPO kemudian menghampiri korban. Pelaku memaksa korban untuk memberikan sejumlah uang sambil memegang payudara korban. Kondisi JPO saat itu sepi.

Perempuan berpenampilan menarik itu kemudian menyerahkan uang sebesar Rp 1,2 juta kepada pelaku. Setelah itu, pelaku melarikan diri, sementara korban melaporkan kejadian tersebut ke Polsek Tanah Abang.

Tak berselang lama, Polsek Tanah Abang menangkap pelaku pemerasan dan pelecehan di JPO itu pada Sabtu (1/3) lalu. Pelaku tersebut bernama Ifan Taufik (27) alias Ivan. Ivan yang diketahui seorang residivis itu berasal dari Wamena, Papua.

Ivan kerap melakukan aksinya seorang diri. Dari catatan kepolisian, pelaku sudah melakukan kejahatan serupa lebih dari 10 kali.

(mei/vid)


Berita Terkait