Keterangan ini diungkap oleh salah satu anak panti asuhan berusia 14 tahun dalam pemeriksaan di Unit Perlindungan Perempuan dan Anak (PPA) Polda Metro Jaya, Jakarta, Rabu (26/2/2014) siang tadi.
"Mereka minta-minta untuk bertahan hidup. Menurut salah satu anak panti asuhan berusia 14 tahun, yang meminta-minta hanya satu anak," kata Eric Manurung dari Lembaga Bantuan Hukum (LBH) Mawar Saron yang mendampingi pemeriksaan.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Para anak panti itu, lanjut Eric, tidak mendapatkan kebutuhan pangan yang layak. Hampir setiap hari, anak-anak di panti asuhan tersebut diberi makan mie instan.
"Seringnya mereka itu makan mie, karena ayah (Samuel) dan bunda (Yuni) itu sering tidak di tempat. Jadi mereka makan sendiri, merebus mie sendiri," jelas Eric.
Padahal menurut penuturan para korban, panti asuhan yang dikelola oleh Chemy Watulingas SH alias Samuel dan istrinya Yuni Winata itu sering mendapatkan bantuan dari para donatur. Selain uang, panti asuhan tersebut juga mendapatkan donasi berupa kebutuhan sandang dan pangan.
"Sumbangannya berupa pakaian, mie instan, beras, makanan ringan. Kalau ada yang ulang tahun, dikasih kue-kue," imbuh Eric.
Namun Eric menambahkan, sumbangan dari donatur itu tidak disalurkan dengan baik untuk keperluan anak-anak panti asuhan. Bahkan, pemilik menyimpan makanannya di gudang.
"Makanan itu disimpan di gudang dan ada beras hasil sumbangan yang dijual. Ini menurut keterangan salah satu anak panti," tutur Eric.
(mei/vid)











































