Itulah Tokyo. Sebuah kota yang berada di kawasan Kanto Jepang. Sebagai ibukota negara, Tokyo menjadi tempat pusat kendali pemerintahan yang menjangkau seluruh kepulauan Jepang.
Di kota ini terdapat istana kekaisaran Jepang. Kantor perdana menteri 'Negeri Sakura' juga ada di wilayah yang berada di Pulau Honshu ini.
Begitu juga dengan perekonomian, Tokyo menjadi penopang. Pusat-pusat perekonomian Jepang ada di kota yang dipimpin oleh Walikota Youichi Masuzoe ini, seperti: Tokyo Stock Exchange, Bank of Japan, dan sejumlah markas perusahaan-perusahaan raksasa dari Jepang.
Tokyo pun bak gula yang membuat semut-semut pekerja berdatangan, guna mencari uang. Meski begitu, kota yang pusat kegiatannya berada di area Shinjuku ini tidak lantas kehilangan kendali akan pengaturan perpindahan massa setiap harinya. Hal yang lumrah terjadi di kota-kota besar, salah satunya Jakarta.
Selain memiliki infrastruktur dan fasilitas transportasi yang cukup memadai, Tokyo juga mempunyai sistem pengaturan lalu lintas yang cukup baik. Sistem semakin kuat karena ditunjang teknologi, seperti CCTV yang tersebar rapat di sudut-sudut kota.
Namun itu semua tidak akan tercapai bila masyarakatnya tidak mentaati aturan. Dan bukan itu yang terjadi di Tokyo. Di kota ini, hampir seluruh warganya tertib berlalu lintas.
Jika para pengendaranya tertib, kiranya suatu hal yang lumrah mengingat banyaknya sistem pengawasan. Namun yang menarik di Tokyo, para pejalan kaki atau pengguna angkutan umum juga menunjukkan sikap anti melawan hukum.
Hal itu setidaknya terlihat di jalan-jalan yang ada di Tokyo pada Senin (24/2/2013) sore hingga petang. Seperti terlihat di Harajuku, Ginza, dan Shibuya, meski jalanan tengah sepi, para pejalan kaki menunggu lampu hijau untuk penyeberang jalan.
Lampu untuk penyeberang jalan ini terdapat di setiap perempatan dan pertigaan yang ada di Tokyo, baik jalan utama ataupun jalan untuk kendaraan bermotor lainnya di pinggiran kota. Ada juga lampu yang tak terletak di perempatan, yang disediakan khusus hanya untuk menyeberang.
Nyaris tak pernah terlihat warga yang menyeberang selain di zebra cross. Saat hendak menyeberang, warga menyusuri trotoar menuju tempat adanya zebra cross, menunggu lampu hijau untuk penyeberang jalan menyala, baru melangkah menuju seberang jalan.
Begitu juga halnya dengan para pengendara, baik mobil maupun motor. Mereka tertib mengikuti petunjuk lampu. Jika lampu merah untuk kendaraan menyala, yang artinya lampu hijau untuk pejalan kaki, kendaraan menghentikan lajunya persis dibelakang garis zebra cross.
"Untuk menyeberang, kami terbiasa melihat lampu petunjuk, bukan pada jalanan. Ya mungkin karena sudah terbiasa," ujar Hideaki seorang penyeberang jalan ketika ditemui di kawasan Shibuya.
Ya begitulah Tokyo dengan segala fasilitas transportasinya, sistem pengawasannya dan ketaatan masyarakatnya akan peraturan. Menengok ke tanah air, dua poin pertama masih dalam proses pengerjaan oleh Pemprov Jakarta. Namun poin terakhir, bisa sama-sama dilakukan untuk setidaknya mengurangi rutinitas kemacetan di DKI.
(fjp/trq)











































