Senioritas Dinilai Penting Dalam Pergantian Kapolri
Jumat, 03 Des 2004 23:21 WIB
Jakarta - Kendati Jenderal Polisi Da'i Bachtiar masih menjabat sebagai kapolri namun, isu nama calon Kapolri baru makin marak. Isu itu tidak hanya di DPR, tapi juga kalangan dalam kepolisian juga angkat bicara. Gubernur Perguruan Tinggi Ilmu Kepolisian Irjen Pol Prof. Dr. Farouk Muhammad membenarkan, isu seputar kepemimpinan Polri sebenarnya sudah lama menjadi perbincangan di tubuh Polri sendiri. Menurut Farouk yang dihubungi detikcom, di Jakarta, ada sejumlah nama di kalangan perwira tinggi bintang tiga yang berpeluang menjadi Kapolri. Di antaranya, Wakapolri Komjen Adang Daradjatun, Inspektur Pengawasan Umum Komjen Binarto, dan Kepala Bareskrim Polri Komjen Suyitno Landung. Cuma, katanya, dua nama terakhir yakni Binarto dan Suyitno Landung, peluangnya tipis. Sebab, sesuai kelaziman, jabatan Kapolri diisi oleh perwira yang pernah mengenyam pengalaman wilayah. ”Biasanya pernah jadi kapolda,” ujar mantan Kapolda Maluku itu.Bintang tiga lainnya adalah Komjen Makbul Padmanegara, lulusan Akpol 1974 yang kini menjadi Kepala Pelaksana Harian (Kalahar) Badan Narkotika Nasional. Selain usianya masih muda, Farouk menilai, Makbul cukup sukses saat memimpin Polda Metro Jaya. ”Secara pribadi, saya mendukung Adang dan Makbul,” kata Farouk. Cuma, kalau pertimbangannya senioritas dan untuk meredam gejolak, Adang Daradjatun lebih berpeluang. Di jajaran bintang tiga, saat ini dialah yang paling senior. Adang yang mantan Kapolda Jawa Barat dan Kababinkam Polri adalah lulusan Akpol 1971. Soal senioritas juga sesuai dengan aturan Pasal 11 ayat 6 UU No. 2/2002 tentang Kepollisian Negara Republik Indonesia. Pasal tersebut menyatakan, calon Kapolri adalah Perwira Tinggi Kepolisian Negara Republik Indonesia yang masih aktif dengan memperhatikan jenjang kepangkatan dan karier. Sementara, dalam penjelasan terhadap ayat tersebut, dinyatakan bahwa yang dimaksud dengan ”jenjang kepangkatan” adalah prinsip senioritas, dalam arti penyandang pangkat tertinggi di bawah Kapolri yang dapat dicalonkan sebagai Kapolri. “Jadi, bisa dikatakan, masalah senioritas penting,” ujar Farouk.Masalahnya, sambung Farouk, nama-nama yang direkomendasikan Mabes Polri itu bisa saja ditolak presiden jika tidak berkenan. Dengan begitu, pilihan bisa beralih ke pati bintang dua. Di jajaran ini, ada beberapa Kapolda, ada pula yang berada di jalur pendidikan. ”Di antaranya, ada saya dan Irjen Sutanto (Kepala Lembaga Diklat Polri–red),” katanya.Dari sejumlah nama yang masuk nominasi tersebut, Farouk menilai yang paling favorit ada tiga orang. Yakni, Adang Daradjatun, Makbul Padmanegara, dan Sutanto. “Mereka baik dan memiliki kredibilitas dan kualitas,” tandasnya.
(mar/)











































